Iklan Atas Artikel

Biografi Singkat Al Imam Ibnu Hazm, Anak Seorang Menteri Khalifah Al-Manshur



Nyongmart.com - Ibnu Hazm, Beliau lahir dengan penghidupan materi yang sangat berkecukupan, ayahnya pernah menjadi menteri untuk khalifah al-Manshur semenjak tahun 381 H, sampai masa kekhilafahan al-Muzaffar yang wafat pada tahun 402 H.

Adapun kelahiran Imam kita ini, yang memiliki nama lengkap Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm Abu Muhammad al-Andalusiy, yaitu pada akhir Ramadhan tahun 384 H di Cordova, Spanyol.

Sebagai anak pejabat tinggi, maka beliau sewaktu kecil diasuh oleh para wanita pelayan istana yang mengajarkannya Al Qur'an dan baca tulis. Setelah menginjak remaja, beliau diajak ayahnya menghadiri beberapa kajian ilmiah yang diinisiasi oleh Khalifah al-Manshur pada waktu itu.

Setelah menghapal Al-Qur'an, beliau lalu mendalami ilmu hadits dibawah bimbingan al-Hamazani dan Abu Bakar Muhammad bin Ishaq. Adapun untuk fiqih, maka pada mulanya beliau mempelajari fiqih berdasarkan Mazhab Maliki, karena ini adalah Mazhab resmi negaranya pada waktu itu.

Salah satu faktor yang membuat beliau mendalami fiqih lebih lanjut adalah pernah beliau masuk masjid untuk menunggu mensholati jenazah salah satu kerabat ayahnya, beliau langsung duduk tanpa sholat tahiyyatul masjid terlebih dahulu,  sebenarnya para gurunya sudah memberikan isyarat kepadanya untuk sholat berdiri Tahiyyatul Masjid, namun beliau tidak "ngeh" terhadap isyarat tersebut, sehingga tetap saja duduk. Maka orang-orang disekitar beliau pun banyak yang mengejek, bahwa umur yang sedewasa itu tidak tahu wajibnya sholat Tahiyyatul Masjid. Pada waktu itu, umur beliau sudah menginjak 26 tahun.

Kemudian pada hari yang lain, beliau masuk masjid menjelang azan Maghrib, maka beliau pun sholat Tahiyyatul Masjid, namun ternyata beliau mendapatkan teguran bahwa waktu tersebut tidak boleh untuk mengerjakan sholat, maka kebingungan pun melandanya, sehingga beliau pun akhirnya menemui salah satu gurunya yaitu Abu Abdullah bin Dahun yang mengajarinya privat kitab al-Muwatha' Imam Malik selama 3 tahun sampai khatam, setelah itu beliau pun sudah bisa berdiskusi dan melakukan bahats dalam masalah fiqhiyyah.

Beliau tidak berhenti mempelajari fiqih Mazhab Maliki saja, namun beliau juga mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i yang kurang populer di Andalusia pada waktu itu secara otodidak dan juga fiqih perbandingan mazhab.

Salah satu gurunya yang memiliki pengaruh yang besar terhadap dirinya sehingga kita mengenal corak fiqih beliau sekarang ini adalah Mas'ud bin Sulaiman bin Muflit (w. 426 H), gurunya ini adalah ahli fiqih perbandingan yang banyak berpegang dengan zhahirnya Nash, tanpa merasa terikat dengan Mazhab tertentu. Dari pergaulan dengan gurunya inilah, al-Imam IBNU HAZM merasa mendapatkan jati dirinya yang dicarinya selama ini, maka beliau pun mengikrarkan bahwa dirinya mencari kebenaran, berijtihad dan tidak terikat dengan Mazhab tertentu.

Imam Ibnu Hazm pun merasa cocok untuk mengembangkan fiqh zhahiriyyah yang pernah dibawa oleh al-Imam Dawud bin Ali, bahkan beliau dianggap sebagai pendiri kedua, Mazhab Zhahiriy.

Yang membuat karekteristik Ibnu Hazm dikenal keras adalah karena situasi sosial politik pada waktu itu, dimana karena keluarga beliau terkait dengan pemerintahan, maka ketika terjadi pergantian rezim, beliau pun merasakan pengusiran dan pengucilan. Al-Imam banyak dikucilkan oleh para ulama yang berseberangan politik dengannya, sehingga orang-orang yang belajar kepada Ibnu Hazm, berarti sama saja ia sudah siap menghadapi resiko pengucilan sama seperti gurunya. Namun tetap saja ada beberapa orang yang masih nekat berguru kepadanya dan mereka menamakan diri al-Hazmiyyah, merujuk kepada pemikiran gurunya tersebut.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kita membaca kitab al-Muhalla, maka didalamnya terdapat kritikan-kritikan pedas kepada lawan pendapatnya pun dengan kitab Ihkaam al-Ahkaam yang berisi Ushul fiqih, juga banyak bantahan keras terhadap teori Ushul fiqih yang berkembang pada waktu itu. Dua kitab yang kami sebutkan diatas, adalah landasan utama para pengikut Mazhab Zhahiriy setelah al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah.

Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 28 Sya'ban 456 H di Andalusia dengan meninggalkan khazanah ilmu terutama dalam bidang fiqh bagi kaum Muslimin pada umumnya. Kitab al-Muhalla menjadi salah satu referensi penyusunan Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai hukum acara peradilan agama Islam di tanah air.

Semoga Allah memberikan ampunan dan rahmatNya yang luas kepada saya, beliau dan kita semuanya.

Abu Sa'id Neno Triyono

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel