Iklan Atas Artikel

Manfaat Kisah dalam Menumbuhkembangkan Karakter Anak


Dalam bukunya yang berjudul Piawai Mendongeng Kak Bimo memberikan penjelasannya tentang manfaat cerita bagi perkembangan anak dengan judul "The Miracel Of Story Telling" berikut artikel selengkapnya.

Tidak henti-hentinya Tuhan mendidik dan memelihara kehidupan ini, beliau pula yang paling mengerti bagaimana cara menumbuhkan daya hidup semua makhluk ciptaan-Nya. Termasuk dalam melatih jiwa manusia tahap demi tahap sehingga mencapai kematangan bahkan hingga kemundurannya.

Dan diantara metode yang digunakan untuk mendidik jiwa manusia adalah dengan metode cerita/kisah. Lihatlah dalam berbagai kitab suci agamaagama yang berkembang di nusantara, selalu terdapat kisah-kisah sebagai ilustrasi bagaimana menjalani hidup ini dengan lurus dan benar, seperti apa kesudahan yang ditemui orang-orang yang mulia, dan seperti apa pula akibat yang ditemui oleh orang-orang yang buruk budinya. Semuanya dapat kita jadikan sebagai cermin kehidupan. Sayangnya hingga saat ini, bercerita masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang tua. Banyak orang mengira bahwa bercerita dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebuah kesia-siaan. “Saya kira anak saya belajar disini. ternyata hanya mendengarkan cerita begitu komentar seorang Bapak dengan agak sinis. Pendidik yang kebetulan duduk di sebelahnya tentu saja merasa tersindir.

Para Orang tua belum tahu bahwa cerita besar sekali manfaatnya bagi perkembangan kejiwaan anakanak, seolah-olah mereka lupa bahwadulu ketika kecil. ia pun sangat gemar mendengarkan cerita. menurut para ahli pendidikan bercerita kepada anak-anak memiliki beberapa fungsi yang amat penting, yaitu:

1. Membangun Kontak Batin

Seorang Guru harus memiliki kontak batin dengan para muridnya, kesuksesan seorang guru dalam menanamkan nilai agama sangat tergantung dari kontak batin ini. Dampak positif yang paling dari kontak batin ini pali ada tia hal, yaitu; (a) Guru didengar/diperhatikan (b) Guru disayangi para murid, sehingga selalu merasa dekat (c) guru dipercaya dan diteladani kata-kata, nasehat dan tingkah lakunya. Membangun kontak batin ini sering kali lebih efektif apabila dilakukan melalui cerita. Bisa saja berupa cerita fiktif, ataukah pengalaman-pengalaman hidup dari para guru itu sendiri, baik yang manis maupun pahit, bahkan sering kali lebih berkesan bagi anak.

2. Media Penyampai Pesan nilai Agama

Menyampaikan nilai-nilai moral dan agama meialui cerita biasanya lebih nyaman didengarkan anak. Karena ia senang mendengarkan cerita. Maka secara otomatis pesan-pesan mora dan agama yang kita selipkan akan didengarkan anak dengan senang hati pula. Teknik memberikan pesan moral pada metode cerita ada bermacam-macam. Bisa saja pesan itu cukup diselipkan. Bisa pula cerita itu sendiri memang sudah bernafaskan nilai-niiai terentu, bisa pula pesan-pesan tersebut ditonjolkan melalui dialog para tokoh dalam cerita itu. Atau dalam bentuk kesimpulan yang yang diberikan oleh sang guru sendiri, atau bahkan bisa juga para murid diajak untuk menyimpulkan nilai-nilai apakah yang dapat diambil dari cerita kita. Kita tinggal memilih menurut situasi dan kondisinya.

3. Pendidikan lmajinasi/fantasi

Para ahli pendidikan menyatakan bahwa pada masa anak-anak berimajinasi dan berfantasi adalah sebuah proses kejiwaan yang sangat penting. Imajinasi dan fantasi akan mendorong rasa ingin tahu anak. Rasa ingin tau ini sangat penting bagi perkembangan intelektual anak. Imajinasi dan fantasi anak yang kaya juga sangat berfaedah bagi pendidikan kreativitas mereka. Padahal kita pahami bersama, untuk dapat menjadi bangsa yang unggul kita harus dapat melahirkan generasi baru yang selalin memiliki mentalitas yang kokoh, juga memiliki keunggulan intelektualitas dan kreativitas. Untuk merangsang imajinasi dan memperkaya daya fantasinya, kita dapat melakukan secara efektif dengan cara bantuan cerita. Contoh Kisah Hajjaj bin Yusuf dan Bocah Kecil yang Jenius

4. Pendidikan Emosi

Melalui cerita, emosi anak yang selain perlu disalurkan juga perlu dilatih, dapat diajak mengarungi berbagai perasaan manusia. Ia dapat dididik untuk menghayati kesedihan, kemalangan, derita dan nestapa. Ia dapat pul diajak untuk berbagi kegembiraan. kebahagiaan, keberuntungan dan keceriaan. Melaui cerita, perasaan/emosi anak dapat dilatih untyuk merasakan dan menghayati berbagai lakon kehidupan manusia.

5. Membantu Proses Identifikasi Diri/perbuatan

Melalui cerita, anak-anak akan mudah memahami sifat-sifat. figur-figur dan perbuatan mana yang baik, dan sebaliknya mana diantara itu semua yang yang buruk. Melalui cerita kita juga dapat memperkenalkan akhlak dan figur seorang yang baik dan pantas diteladani.. demikian pula sebaliknya. Bercerita dapat berperan dalam proses pembentukan watak seorang anak.

6. Memperkaya Pengalaman Batin

Melalui cerita kita dapat menyajikan kemungkinan kejadian kehidupan manusia, dan pengalaman atau sejarah kehidupan yang riil, maka dengan ini anak-anak akan terlatih memahami berbagai makna kehidupan beserta bahkan hukumhukum kehidupan manusia. Pengalaman batinnya akan lebih kaya, dan ini akan sangat membantu kematangan jiwanya. Jiwa yang matang dan kokoh tidak mudah terombang-ambing oleh rayuan, godaan dan tantangan hidup. la akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tegar dan berprinsip, dalam menghadapi segala situasi dan kondisi.

7. Hiburan Dan Penarik Perhatian

Bercerita merupakan sarana hiburan yang murah meriah. Di tengah-tengah kepenatan dan kejenuhan anak-anak belajar, bermain dan mengaji, tentu anak-anak memutuhkan hiburan untuk mengendurkan urat syarafnya, agar kembali fresh. Rasanya bercerita pun akan bermanfaat untuk menghibur mereka, tanpa perlu merogoh kocek.selain itu apabila kegiatan tampak memperlihatkan tandatanda kejenuhan. bercerita dapat dimanfaatkan untuk menarik kembali anak-anak yang mulai kurang akktif.

Bila para pembina anak-anak menyadari akan fungsi dan manfaat bercerita diatas, maka kita yakin, tidak akan ada lagi suara sumbang yang meremehkan keberadaan cerita sebagai media dan metoda pendidikan yang efektif. Para pengasuh/tutor juga tidak akan ragu-ragu melengkapi ketrampilan kepengasuhannya dengan kemampuan bercerita.

8. Merekayasa Watak/karaktar

Apakah anda pernah mendengar suatu kearifan yang berbunyi ”Siapa menabur menuai", atau “Siapa menanam mengetam”, atau orang jawa mengatakan “Sopo nandur ngunduh”. Ternyata inilah hukum pembentukan karakter didunia ini, selengkapnya adalah sebagai berikut: Siapa menanam pikiran menuai perbuatan Siapa menanam perbuatan menuai kebiasaan Siapa menanam kebiasaan akan menuai watak Dan barang siapa hidup dengan mengembangkan watak itu, ia akan menuai nasibnya. Baca juga : Inspiratif, Inilah daftar Youtuber asal Indonesia dengan Omzet Milyaran

Orang jepang menanamkan jiwa luhur Samurai (bushido, iciban. makoto, gi, rei, melyo, chugo) dalm beberapa kisah terpilih yang dimasukkan dalam kurikulum nasional nasional mereka. Demikian pula dongeng-dongeng futuristik dari para guru di Amerika berhasil membuat murid-murid mereka terobsesi dengan antariksa, alat komunikasi, transportasi dan persenjataan canggih. Guru-guru tiongkok mengajarkan kegigihan dalam bekerja dengan kisah keuletan dalam mencapai kesuksesan. Anak muda minang yang tegar merantau seperti malin kundang berani mengubah nasib. Demikian pula dalam Kitab suci al quran Allah mengungkap adanya karakter Muttaqien, Kafir dan Munafik, lengkap dengan kisah-kisah kehidupan mereka. yang termuat dalam kitab tersebut, kurang lebih 300 ayat yang berisi cerita.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel