Iklan Atas Artikel

Riwayat Hidup Lengkap Mohammad Natsir, Sosok Negarawan Sejati


Indonesia adalah gudangnya orang hebat. Ada banyak sekali tokoh-tokoh besar lahir di Nusantara ini. Bukan hanya diakui dalam negeri saja, namun juga diakui dunia. Salah satunya Mohammad Natsir. Seorang tokoh bangsa yang telah berjasa besar bagi Indonesia. Lahir dimasa pra kemerdekaan RI. Kiprahnya tak diragukan lagi. Tokoh dengan multi prestasi telah mengharumkan Indonesia di kancah dunia.

A. Nama dan Kelahirannya

Nama aslinya memang Mohammad Natsir. Lahir pada tanggal 17 Juli 1908 di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Kabupaten Solok Sumatera Barat. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan suami-isteri Idris Sutan Saripodo dan Khadijah.

Mohammad Natsir berasal dari keluarga yang sangat sederhana. namun tekun beribadah. Ayahnya hanya seorang pegawai kecil yang tugasnya sering berpindah pindah dari satu daerah ke daerah lain. Semula, ia bekerja sebagai juru tulis kontrolir di Alahan Panjang. kemudian pindah ke Bonjol sebagai asisten Demang. kemudian ke Bekeru, Sulawesi Selatan, sebagai seorang sipir.

Menjelang masa pensiun, kembali lagi ke kampung halamannya di Alahan Panjang.

Jadi semenjak kecil Mohammad Natsir selalu mengikuti keluarganya ke mana pun pekerjaan ayahnya dipindahkan. Hanya ketika berpindah ke daerah Bekeru, Sulawesi selatan ia tidak ikut karena tempatnya terlalu jauh, ia lebih memilih ikut mamaknya (paman dari ibu) ibrahim merantau ke Padang untuk melanjutkan sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School). sebuah sekolah dasar milik pemerintah penjajahan Belanda.

Pada usia 26 tahun, tepatnya 20 Oktober 1934, Mohammad Natsir menikah dengan Puti Nur Nahar, guru Taman Kanak-kanak Pendidikan lslam yang dicintainya. Meskipun serba sederhana, rangkaian acara pernikahannya berlangsung cukup khidmat dan gembira. Pasangan ini sudah saling mengenal saat mereka sama-sama aktif di organisasi Serikat Pemuda Islam atau Jong Islamieten Bond (JIB) Padang, yang diketuai Sanoesi Pane. Waktu itu, Mohammad Natsir masih duduk di bangku akhir kelas 1 MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Dari pernikahannya itu, Mohammad Natsir dikaruniai enam orang anak, dua laki-laki dan empat perempuan. Mereka adalah Sitti Moechlishah (Lies), lahir di Bandung, 20 Maret 1936, Abu Hanifah (Hanif), lahir di Bandung, 27 April 1937, (sayang sekali putera sulung ini meninggal dunia saat masih duduk di bangku sekolah dasar, pada tahun 1951), Asama Faridah (Ida), lahir di Bandung, 17 Maret 1939, Hasna Faizah, lahir di Bandung, 5 Mei 1941, Aisjatul Asyriyah (Abi), lahir di Bandung, tanggal 20 Mei 1942, dan Ahmad Fauzie, juga lahir di Bandung, 26 Oktober 1944.

Mohammad Natsir adalah orang besar dan hebat yang pernah hidup di negeri tercinta kita ini. Ia adalah pejuang bangsa, ahli sejarah, pemikir, pujangga, negarawan, ahli politik, pemersatu bangsa, pembawa hati nurani umat, tokoh pendidikan, tokoh pers. tokoh kemanusiaan, mubaligh, penulis, ahli filsafat, dan ulama yang namanya bukan hanya terkenal di negerinya sendiri melainkan juga diakui dan dihormat internasional.

B. Masa Kecil dan Semangatnya dalam Belajar

Mohammad Natsir adalah seorang anak yang berasal dari keluarga sangat sederhana. Saat masih duduk di bangku kelas II Sekolah Rakyat, ia sudah harus berpisah dengan keluarganya karena pekerjaan ayahnya dipindahkan ke Bekeru, Sulawesi Selatan. Ia memilih ikut merantau ke Padang bersama mamaknya, Ibrahim, yang biasa ia panggil Makcik Rahim. Si mamak sudah berusaha mendaftarkan Mohammad Natsir ke sekolah HIS. Namun, tidak diterima dengan alasan ia berasal dari golongan keluarga kurang mampu. Akhirnya, Mohammad Natsir harus puas dengan hanya menjadi siswa HIS Adabiyah Padang yang muridnya terdiri dari anak-anak negeri.

Sejak kecil Mohammad Natsir sudah harus hidup prihatin bersama mamaknya, seorang buruh harian sebuah pabrik kopi yang terletak tidak jauh dari pantai. Upah yang diterimanya pun tidak seberapa, hanya beberapa puluh sen sehari. Sebagian digunakan untuk makan dengan menu yang sangat sederhana bersama keponakannya dan sisanya ia kirimkan untuk keluarganya yang tinggal di Maninjau.

Pagi-pagi sekali, Mohammad Natsir sudah bangun. Setelah salat subuh berjamaah, ia dilatih silat oleh mamaknya. Setelah itu, ia menanak nasi dan membuat kopi. Sehabis sarapan, ia mencuci piring, menimba air, dan mengerjakan tugas-tugas ringan yang lain. Sore hari, sepulang sekolah, ia pergi ke pesisir mencari kayu bakar. Semua itu ia lakukan dengan senang hati dan atas kesadarannya sendiri, tanpa disuruh apalagi dipaksa mamaknya.

Lima bulan tinggal di Padang, Mohammad Natsir diajak pulang ayahnya yang baru saja dipindahkan kembali di Alahan Panjang. Ia lalu dimasukkan di HIS Solok yang belum lama dibuka. Di Solok, ia dititipkan pada Haji Musa, seorang sahabat dekat ayahnya. Oleh Haji Musa, ia diperlakukan seperti famili dekatnya sendiri. Bahkan, dengan putera Haji Musa, Ubaidillah, ia seperti adik kakak. Pagi hari mereka sama-sama sekolah di HIS. Sore hari, sekolah di Madrasah Diniyyah dan malam hari, belajar mengaji di surau.

Sebagai anak yang tahu berterima kasih, Mohammad Natsir, dengan kesadaran sendiri, ikut membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ringan, seperti menyapu halaman, mengisi air ke bak mandi, dan membelah kayu bakar. la sama sekali tidak merasa keberatan, karena semua itu sudah biasa ia kerjakan saat tinggal bersama mamaknya di padang.

Walaupun masih berusia remaja, Mohammad Natsir sudah mulai memikirkan masa depannya. Ia berhasrat lekas dewasa agar dapat membantu orangtuanya yang tinggal di Batusangkar, setelah ayahnya pensiun. Atau, setidaknya, ia tidak mau menjadi beban keluarga dan merepotkan terus Haji Musa yang baik. Ia ingin hidup mandiri.

Ketika duduk di bangku kelas III Diniyyah, ia dipercaya membantu mengajar kelas I karena kekurangan guru. Ia mendapat bayaran Rp 10,00 sebulan. Bukan main senang hatinya menerima rezeki dari hasil jerih payahnya sendiri untuk pertama kali. Itulah yang membuatnya merasa yakin bahwa ia dapat hidup mandiri. Maka ia pun semakin tekun belajar demi mencapai cita-citanya.

Suatu hari, kakaknya yang di Padang datang padanya. la diajak tinggal bersamanya dan dimasukkan ke sekolah HIS Padang yang tentunya lebih maju daripada HIS Solok. Ajakan ini pun diterimanya. HIS Padang adalah sekolah yang dahulu menolaknya karena orangtuanya miskin. Dan, kini, ia diterima di kelas V berkat kecerdasannya yang luar biasa.

Ketika berada di bangku terakhir HIS, Mohammad Natsir sudah bercita-cita hendak melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yaitu sekolah MULO di Padang. Tetapi, ia ragu, mengingat orangtuanya yang pasti tidak sanggup membiayainya, apalagi ayahnya sudah pensiun. Ia sedih. Namun untung, ada seorang guru yang memberikan keterangan bahwa ia bisa diterima di MULO melalui beasiswa dengan syarat nilai rapornya harus tinggi. Inilah yang kemudian membangkitkan semangatnya untuk belajar lebih tekun. Berkat pertolongan Allah, restu kedua orangtua, dan kegigihannya belajar, akhirnya ia berhasil meraih citacitanya. la diterima sebagai murid sekolah MULO dengan beasiswa.

Di sekolah MULO Padang, Mohammad Natsir dikenal sebagai murid yang pandai. Tetapi, ia tetap terus tekun belajar. Ia tidak mau kalah dengan teman-temannya yang kebanyakan terdiri dari anak orang kaya. Sebab, ia masih ingin terus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Cita-citanya ingin merantau menuntut ilmu ke pulau Jawa.

Semangat belajar Mohammad Natsir memang sangat tinggi. Begitu tamat dari sekolah MULO, sebenarnya, ia bisa langsung bekerja di kantor pemerintah dengan gaji cukup besar, sehingga bisa membantu kehidupan keluarganya. Tetapi, ternyata, ia lebih memilih melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi di pulau Jawa.

Menyadari bahwa orangtuanya tidak akan sanggup membiayai, Mohammad Natsir lalu berusaha untuk memperoleh beasiswa dari sekolah AMS (Algemeene Middelbare School) A-II (jurusan sastra Barat) Bandung. Untuk itu, ia harus lebih giat belajar. Dan, karena nilai-nilai rapornya cukup tinggi, akhirnya ia bisa diterima di sekolah tersebut.

Sudah tentu Mohammad Natsir merasa senang sekali karena sebentar lagi ia akan bisa menuntut ilmu di pulau Jawa. Sebelumnya, ia sudah mendengar tentang pulau Jawa dari kawan-kawannya yang lebih dahulu berangkat ke sana untuk belajar, ketika mereka pulang liburan pada bulan puasa. Dibacanya buku-buku di perpustakaan yang menceritakan tentang pulau tersebut, terutama kota Bandung yang akan menjadi tempat tinggalnya.

Bandung memang kota yang ramai. Berbagai hiburan dan kesenangan dengan mudah bisa ditemukan di mana-mana. Tetapi, Mohammad Natsir tidak tergoda olehnya. Sebab. tujuannya jauh-jauh meninggalkan kampung halaman adalah untuk belajar menuntut ilmu sebagai bekal meraih cita-cita di masa depan. Di tempatnya menumpang, yakni di sebuah bilik yang terletak di Jalan Cipahit, ia lebih banyak berdiam diri untuk terus belajar atau pergi ke perpustakaan membaca buku-buku untuk menambah pengetahuan ilmunya.

Setamat dari AMS, Mohammad Natsir lagi-lagi belum puas. la masih ingin meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Dan, ketika mendengar pemerintah membuka kursus untuk menjadi guru selama satu tahun bagi para tamatan sekolah AMS dan HBS (Hoogere Burger Schooj), ia langsung ikut mendaftarkan diri. Sebab cita-citanya dalam waktu dekat saat itu adalah ingin mengurus masalah pendidikan.

ltulah sekilas perjalanan masa kecil Mohammad Natsir. Meskipun hidup penuh keprihatinan, tidak membuatnya putus asa. Dengan semangat dan ketekunannya belajar, ia berhasil masuk dan menyelesaikan tingkat pendidikan tinggi. Dan, itulah yang kemudian membuatnya menjadi salah seorang pemimpin besar di negeri ini.

C. Tokoh Segudang Prestasi

Mohammad Natsir adalah seorang tokoh yang lengkap. Ia cukup menonjol dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain:


  • Aktif di Persatuan Islam (PERSIS, 1927-1932)
  • Aktif di Partai Islam Indonesia (PII).
  • Ketua Serikat Pemuda Islam atau Jong Islamieten Bond (JIB, 1928-1932).
  • Anggota Dewan Kabupaten Bandung (1940-1942)
  • Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia (1945-1946).
  • Menteri Penerangan RI (1946-1946).
  • Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958).
  • Perdana Menteri RI (1950-1951), sebuah kedudukan tertinggi yang pernah ia capai sepanjang hidupnya. Dan, itu sebagai imbalan jasa atas keberhasilannya mempersatukan kembali Republik Indonesia setelah terpecah menjadi 17 negara bagian, lewat mosinya yang terkenal dengan nama Mosi Integral Natsir.
  • Anggota Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI, 1958-1960).
  • Penasihat delegasi Indonesia dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda.
  • Penasihat Serikat Buruh islamm lndonesia lndonesi


Ditangkap penguasa karena dituduh ikut terlibat dalam pemberontakan (PRRI). Ia ditahan di Batu, Malang, pada tahun 1960-1961 dan menjadi tahanan politik di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan, Jakarta, pada tahun 1962-1966. la baru dibebaskan setelah pemerintahan Soekarno jatuh. Meskipun demikian, ia tidak dendam atau benci kepada presiden RI pertama itu.

Dalam bidang pendidikan, ia pernah:


  • Menjadi Ketua Organisasi Sekolah-sekolah agama Islam.
  • Mengikuti kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs) selama satu tahun (1931-1932).
  • Mendirikan pendidikan islam (PENDIS), semacam yayasan pendidikan yang meliputi sekolah FROBEL (TK), HIS (SD), dan MULO (SLTP). Di lembaga pendidikan modern yang bernapaskan Islam ini, ia duduk sebagai direktur selama 10 tahun (1932-1942). Begitu banyak kesulitan yang ia hadapi, terutama saat mendirikan dan masa-masa awal pertumbuhannya. Namun, semua itu dapat ia atasi bersama kawan-kawan seperjuangannya.


Dalam Bidang Jurnalistik dan Kepenulisan

  • Ia Mengelola majalah Pembela Islam bersama guru pembibingnya, A. Hassan, (1927). Sayang, karena kesibukannya di dunia pendidikan, ia kurang aktif mengurus majalah tersebut yang akhirnya berhenti terbit pada tahun 1936 dan diganti dengan majalah al-Lisan” yang masih tetap dipimpin A. Hassan.
  • Menjadi editor harian Suara Republik.
  • Menjadi editor harian Suara Rakyat.
  • Menulis sejumlah artikel atau tulisan ilmiah yang dimuat di berbagai harian dan majalah terkenal waktu itu, terutama dalam waktu 10 tahun, ketika ia menjadi Direktur Yayasan Pendidikan Islam. Sungguh, ia seorang penulis yang cermat, berpengetahuan luas, dan pemberani. Ia biasa menggunakan nama samaran A. Moechlis. Demikian pula ketika ia terlibat pertentangan paham dengan Presiden Soekarno mengenai masalah agama dan negara. Nama samaran lainnya ialah Is dan Spectator.
  • Pernah menulis beberapa puisi. Salah satu puisinya yang cukup terkenal berjudul “Pemimpin Pulang”.
  • Menulis beberapa buku, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing. JumIahnya mencapai puluhan. Di antaranya yang cukup terkenal:
  • Kapita Selekta
  • Kebudayaan Islam
  • Aqidah Al Dakwah
  • Risalah Debat Kebangsaan
  • Dengan Islam ke-Indonesiaan
  • Mulia Kebangsaan Muslim
  • Komt Tot Het Gebed
  • Mohammad Als Prefect
  • Gouden Regels Uit Den Qur'an
  • Het Vesten
  • De Islamic Tiscke Vrouw En Hear Reche
Di bidang agama, Mohammad Natsir bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama tingkat nasional, tetapi juga bertaraf internasional. la milik umat Islam seluruh dunia. Hal itu berkat pemikiran dan perjuangannya dalam membela Islam. Sebagai tokoh bertaraf internasional, bebarapa kali ia tampil dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan berbagai perkumpulan islam dan menjabat beberapa jabatan penting. Di antaranya :

Pada tahun 1957 tampil memimpin sidang Muktamar Alam Islami di Damaskus bersama dua orang ulama tingkat dunia yang cukup terkenal, yakni Syaikh Maulana Dr. Abul Hasan Ali An Nadawi dari Mesir dan Syaikh Maulana Abul A'la AI Maududi dari Pakistan.

Pada tahun 1967 ditunjuk sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami (Word Muslim Congress) yang bermarkas di Karachi, Pakistan.

Pada tahun 1969 dipilih menjadi anggota Liga Muslim Dunia (Word Muslim League) yang bermarkas di Makkah AI Mukarramah, Saudi Arabia.

Pada tahun 1972 dipercaya sebagai anggota Majelis A'la Al Alami Lil Masajid yang berpusat di Makkah Al Mukarramah, Saudi Arabia.

Pada tahun 1980 menerima penghargaan “Faisal Award” dari Raja Faisal, Saudi Arabia, atas jasa dan pengabdiannya kepada Islam.

Pada tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation yang berkedudukan di Kuwait.

Pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre For Islamic University yang berpusat di London Inggris.

Pada tahun 1986 dipercaya menjadi anggota Majelis Ulama Internasional, Islamic University, yang bermarkas di Islamabad, Pakistan.

Dan masih banyak lagi kegiatan luar negeri Mohammad Natsir maupun jabatan-jabatan penting yang dipegangnya yang dapat mengharumkan nama negara serta bangsa Republik Indonesia.

D. Tokoh Pembaharu Islam

Sesungguhnya Mohammad Natsir tidak mengenal istilah berhenti berjuang untuk bangsa, agama dan umat. Ia selalu berkarya, walaupun usianya kian bertambah tua. Pada tahun 1967, bersama sejumlah kawan seperjuangannya, ia mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII). Sesuai dengan namanya, yayasan ini memusatkan perhatiannya di bidang dakwah |s|am. Ia sendiri yang dipilih menjadi ketuanya. Sejak berdiri sampai sekarang, yayasan ini berkedudukan di Jalan Kramat Raya No. 45, Jakarta Pusat. Dalam perkembangannya, ia telah memiliki perwakilan di berbagai provinsi di Indonesia. Mohammad Natsir melakukan hal itu karena ia merasa kesulitan mencurahkan pengabdian kepada umat lewat perjuangan politik. Dakwah yang dikembangkan DDII ini tidak hanya melalui pidato atau ceramah saja, yang pendengarnya terbatas, tetapi juga melalui tulisan-tulisan yang punya jangkauan sangat luas, karena bisa dibaca di mana saja dan kapan saja. Karena itu, di markasnya, selain terdapat bangunan masjid AI-Furqon, juga terdapat penerbitan buku, maialah. buletin, dan sebagainya.

Selain masjid, pesantren, dan kampus, sasaran utama yayasan DDII yang dipimpin Mohammad Natsir ini ditujukan pada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil, suku-suku yang masih terasing, dan kaum transmigran. Dan, untuk melaksanakan tugas berat tersebut, telah disiapkan dai-dai handal yang tersebar di berbagai wilayah. Sedangkan dananya, selain berasal dari segenap pengurus yayasan sendiri, anggota, dan para dermawan muslim dalam negeri, juga didapat dari sumbangan atau bantuan para muslimin di luar negeri, yang telah mengenal nama Mohammad Natsir atau paling tidak pernah mendengarnya. Hal ini membuktikan bahwa Mohammad Natsir masih berpengaruh di luar negeri, terutama di negara-negara Islam

Sebagai pejuang dan pembaharu dakwah di Indonesia, Mohammad Natsir telah memberikan sumbangan tenaga, pemikiran, harta, dan jasa-jasa yang lain bagi perkembangan dan kemajuan Islam di tanah air ini.

E. Dikaruniai Umur Panjang

Mohammad Natsir adalah seorang tokoh nasional sekaligus internasional yang dikaruniai usia panjang. la menjalani hidup selama 85 tahun. Karunia Allah tersebut tidak ia lewatkan begitu saja. Tetapi, ia isi dengan amalan atau perbuatan-perbuatan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa. Hal itu karena ia menyadari bahwa Rasulullah SAW, pernah bersabda: “Sebaik-baik nasib seorang manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalannya”. (Hadits riwayat Imam Muslim).

Ketika memasuki usia 80 tahun, sejumlah teman dan muridnya mengadakan acara “Tasyakuran 80 Tahun Mohammad Natsir”, pada hari Ahad, 17 Juli 1988, di Aula masjid AI Furqan, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat. Acara ini sangat sederhana, namun berlangsung cukup khidmat dan meriah. Tidak kurang dari 2.000 orang hadir dalam acara tersebut. Beberapa di antaranya adalah orang penting.

Dari kalangan tokoh negarawan, misalnya, terdapat nama Jenderal (Purn). A.H. Nasution, K.H. Masykur, Mr. Syarifuddin Prawiranegara, Prof. Dr. H.M. Rasiidi, Dr. Sudjatmoko, Prof. Dr. Mr. Sunaryo, Mr. Hardi, HRosihan Anwar, dan l Wangsa Wijaya.

Dari kalangan ulama terdapat nama K.H. Hasan Basri, K.H. Soleh Iskandar, K.H. Noer Ali, K.H. Misbach, K.H. Rusyad Nurdin, dan K.H. Abdullah Salim.

Sedangkan dari kalangan cendekiawan terdapat nama Dr. Deliar Noor, Dr. Ahmad Watik Pratiknya, Dr. Ahmad Muflih Saefuddin, H. Endang Saefuddin, Drs. M. Dawam Rahardjo, Ir. Omar Tusin, Mohammad Noer Kertapati, M.A, dan Prof. Daud Ali, SH.

Berita tentang acara “Tasyakuran 80 Tahun Mohammad Natsir” tersebut diberitakan berbagai surat kabar dan majalah. Di antaranya:
  • Haluan, 18 Juli 1988, berjudul “Pemimpin yang Diidamkan Rakyat Lahir dalam Perjalanan Sejarah".
  • Masa Kini, 18 Juli 1988, berjudul “Tidak Ada Percetakan yang Dapat Melahirkan Pemimpin”.
  • Jayakarta, 18 Juli 1988, berjudul “Muhammad Natsir 80 Tahun”.
  • Pikiran Rakyat, 18 Juli “1988, berjudul “Mohammad Natsir Berusia 80 Tahun”.
  • Pos Kota, 19 Juli 1998, berjudul “Tasyakuran Natsir”.
  • Pelita, 19 Juli 1988, berjudul “Pemimpin Tidak Bisa Dicetak".
  • Sinar Pagi, 19 Juli 1988, berjudul “Tidak Ada Percetakan yang Bisa Melahirkan seorang Pemimpin Baru”.
  • Merdeka, 19 Juli 1998, berjudul “Kondisi Kini Kurang Dorona Kelahiran Pemimpin Baru”.
  • Waspada, 19 Juli 1988, berjudul “Tak Ada yang Bisa Cetak Pemimpin Baru”.
  • Lembar Jumat Salam, 22-28 Juli 1988, berjudul “80 Tahun Natsir, Di Sini Berkumpul Sejumlah Tokoh”.
  • Panji Masyarakat, 21-30 Juli 1988, berjudul “Akan Muncul Yahya-yahya Baru”.
  • Editor, 23 Juli 1988, berjudul “Penyakit Kita dan Kamu”.
  • Tempo, 23 Juli 1988, berjudul “Gunakanlah Nurani”
  • Simponi, 31 Juli 1988, berjudul “Natsir Bilang, Pemimpin Tak Bisa Dicetak”.
Ucapan berkesan yang disampaikan Mohammad Natsir dalam pidatonya pada acara tersebut adalah tidak ada percetakan yang bisa melahirkan pemimpin.

Meskipun telah berusia 80 tahun, Mohammad Natsir masih tampak segar. Konon, ia masih kuat berjalan beberapa kilometer di bawah terik matahari dan menemui para tamunya yang datang ke rumahnya membawa berbagai persoalan. Ia bisa memanfaatkan umurnya. Seperti kata Rasulullah SAW, “Makin panjang umur, makin panjang pula amalnya”.

F. Menjadi Orang Besar

Memperhatikan riwayat perjalanan hidup dan perjuangan Mohammad Natsir, dengan mudah kita akan menyimpulkan bahwa ia adalah ang besar yang pernah dimiliki negeri ini. Sebagai pemimpin bangsa dan agama, ia mencintai umat. Itulah sebabnya sebagian besar hidupnya ia abdikan untuk kepentingan mereka. Mereka pun menyebutnya “Ulama Pemandu Umat” atau “Pemimpin Pembawa Hati Nurani Umat”.

Selain kelemahan-kelemahan yang pasti ada selaku manusia biasa, Mohammad Natsir memiliki sejumlah sifat atau perilaku terpuji yang patut diteladani, terutama oleh setiap generasi muslim sepanjang zaman.

Mohammad Natsir adalah seorang pemimpin yang pernah berjasa menyelamatkan negara ini dari perpecahan pada zaman Republik Indonesia Serikat.

Mohammad Natsir adalah orang yang rendah hati dan ramah. Rumahnya di Jakarta selalu ramai dikunjungi tamu dari berbagai daerah. Mereka datang dengan membawa berbagai persoalan untuk diadukan dan dicarikan jalan keluarnya. Dan, semuanya itu ia terima dengan senyum manis. la tidak mau membedabedakan mereka. Ia memang seorang “dokter", dokter penyembuh jiwa manusia.

Mohammad Natsir adalah ulama sejati. Ia tidak pernah berhenti berpikir dan berjuang sepanjang hayatnya. Niatnya mengabdi kepentingan umat begitu tulus. Sungguh, ia punya pribadi yang sangat mulia dan luhur.

Mohammad Natsir berpembawaan sederhana. Sekalipun sudah diakui sebagai ulama bertaraf internasional, pejuang bangsa, dan pembela negara, ia tetap tampil bersahaja. Ia tidak ingin didewadewakan siapa pun. Ia tidak mabuk berbagai sanjungan.

Mohammad Natsir adalah tokoh yang sangat berwibawa. Walau tubuhnya tergolong kecil, penampilannya kelihatan kalem, dan raut wajahnya selalu tampak berseri. Sesungguhnya, di balik semua itu tersimpan suatu kewibawaan yang luar biasa. la adalah tokoh yang cukup disegani.

Mohammad Natsir adalah pemimpin yang jujur. la menjalani hidupnya di atas jalan yang lurus, mengalah demi kemenangan, dan teguh dalam memegang kebenaran yang diyakininya.

Sebenarnya, masih banyak lagi pujian yang patut diberikan kepada Mohammad Natsir. Itu semua membuktikan bahwa ia adalah orang besar yang harus dijadikan teladan.

G. Wafat

Sekarang Mohammad Natsir telah tiada. Ia wafat pada hari Ahad, 7 Februari 1993. Di bawah siraman air hujan yang cukup deras, ribuan pelayat yang mewakili jutaan umat Islam hadir menvaksikan acara pemakaman jenazahnya di Taman Pemakaman Umum Karet, Tanah Abang Jakarta Pusat. Semoga Alloh senantiasa merahmati beliau. Aamiin. (Abdul Rosyad Shiddiq, Buku Mohammad Natsir)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel