Iklan Atas Artikel

Mengenal Sosok Erbakan, Tokoh Politik Fenomenal dan Pejuang Islam


Mengenal sosok fenomenal abad ini. Sepak terjangnya dalam dunia politik sulit dipercaya. Berkali-kali masuk penjara. Namun siapa sangka sebelum hatinya tertambat di kancah politik ternyata Najmuddin Erbakan adalah sesorang pengusaha sukses. Erbakan hidup selama 80 tahun di bawah rengkuhan tariqat Naqsyabandiyah.

Saat menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, ia melanjutkan studinya ke kuliah teknik di Istanbul (Istanbul Technical University), hingga lulus menjadi angkatan pertama darijurusan teknik mesin dan langsung dinobatkan menjadi dekan kuliah tersebut.

Ia dikirim ke Jerman selama tiga tahun dan meraih gelar doktor di bidang teknik mesin dinamo, lalu kembali ke Istanbul dan meraih jabatan asisten profesor. Di tahun yang sama ia meraih gelar profesor, saat itu umurnya tidak lebih dari 39 tahun. Saat berada di Jerman, ia juga menjadi pemimpin para insinyur yang melakukan penelitian di perusahaan mesin dinamo-Klohs Humbulat Deutsch-di kota Koln, lalu berpindah ke perusahaan lain dan mampu menemukan sejumlah penemuan untuk mengembangkan industri mesin dinamo mobil tank hingga mampu bekerja dengan berbagai bahan bakar.

Di sela-sela aktivitas mengajarnya di universitas teknik Istanbul, dengan pengalaman yang dimilikinya saat bekerja di perusahaan dinamo Jerman, ia membangun perusahaan dinamo dengan modal saham dari 300 orang koleganya. Perusahaan ini berkonsentrasi di bidang mesin diesel dan mulai berproduksi pada tahun 1960 hingga menjadi perusahaan terbesar di Turki dalam bidang per-dieselan. Setiap tahun, ia memproduksi sekitar 30 ribu mesin diesel. Erbakan menjadi general manajer hingga 8 tahun, dan selanjutnya menjadi pimpinan umum. Ia juga menjadi sekjen persatuan dagang, industri, dan pasar bursa Turki, Selanjutnya ia menjadi pemimpin persatuan perusahaan dagang seluruh negeri.

Saat Erbakan menduduki posisi tersebut, terjadi revolusi sekular dan Masoniyah, dan mulailah media massa sekular dan zionis melancarkan serangan kepada Iawan-Iawannya, hingga mereka menulis, "Pada hari ini, ada pertentangan jelas di dunia perdagangan dan industri antara dua kelompok: kelompok kolega Masoniyah yang bekerja di bawah perlindungan perdana menteri Suleyman Demirel, dan kelompok Ikhwanul Muslimin yang bekerja di bawah pimpinan Najmuddin Erbakan."

Erbakan berpindah dari medan industri menuju gelanggang politik untuk membentuk, memimpin, dan membangun gerakan kebangkitan Islam kontemporer. Di tahun 1970, bersama para pemikir dan aktifis Islam, ia membentuk Partai Keselamatan National (National Salvation Party). la berlaga di pemilihan legislatif pada tahun 1979 sebagai calon independen dan menang telak hingga melenggang ke lembaga legislatif.

Dalam sebuah ceramahnya, ia berkata, ”Sungguh, umat kita adalah umat iman dan Islam. Yahudi dan sosialis terus melancarkan usahanya secara berkelanjutan untuk menghancurkan umat ini dan merusaknya, dan mereka telah sukses hingga tahapan yang cukup jauh. Media massa berada dalam kendali mereka. Perdagangan di tangan mereka. Dan ekonomi di bawah kekuasaan mereka. Di hadapan badai ini, maka kita hanya memiliki pilihan bekerja sama bahu-membahu dan dengan satu hati hingga kita mampu mengembalikan Turki ke sejarah awalnya dan kita bisa mencapai sejarah agung yang kita harapkan di masa kini."

Setelah satu tahun, pemerintah menuduh partai tersebut telah melanggar undang-undang sekular, berusaha menghapus sekularisme, menegakkan pemerintahan Islam di Turki, bekerja menyerang prinsip-prinsip Ataturk, maka pemerintah membubarkannya, menyita aset-asetnya, melarang praktisinya untuk bergabung di partai lain, membentuk partai baru, atau mencalonkan diri dalam pemilu meski dengan menjadi calon independen selama lima tahun.

Setelah dikeluarkannya grasi umum terhadap para kriminal politik, maka Erbakan kembali berlaga di politik dan meraih 48 kursi legislatif. Ia membangun koalisi dengan Partai Rakyat Republik dan mendapat jatah 7 kementerian penting: menteri dalam negeri, menteri keadilan, menteri perdagangan, menteri pajak dan bea cukai, menteri pertanian, menteri industri dan permodalan, dan satu menteri negara. Sedang Erbakan sendiri menjadi wakil perdana menteri. Namun, setelah sembilan bulan tiga puluh hari dari terbentuknya pemerintahan, dengan rekayasa kaum sekular dan Yahudi ia mengundurkan diri dari pemerintahan koalisi.

Namun, tak berselang lama, Erbakan kembali ke pemerintahan dan membuat koalisi baru dengan Partai Keadilan pimpinan Demirel dengan formulasi kementerian dan kursi yang sama seperti saat koalisinya dengan pemerintahan terdahulu.

Di pemilu 1977, partai Erbakan tidak meraih cita-cita politisnya, bahkan ia mengalami kerugian besar yang mengakibatkan kehilangan kursi legislatifnya hingga tinggal 24 kursi, meski begitu ia masih menjadi anggota koalisi pemerintahan.

Erbakan dan partainya mengerahkan segala kekuatan internalnya, namun media massa internasional Iebih mendukung sistem sekular Turki yang menuding bahwa Erbakan ingin mengembalikan Turki kepada kemuliaan Islam. Di seperempat akhir dari tahun 1980, partainya melakukan demo besar-besaran bertepatan dengan peringatan hari AI-Quds se-dunia yang diikuti oleh lebih dari setengah juta penduduk Turki yang datang dari berbagai penjuru. Mereka meneriakkan yeI-yel, "Kami menginginkan Islam, dan kami tidak rela dengan yang lain.” Mereka juga membawa tiruan kubah ash-Shakhrah yang mulia dan membentangkan spanduk bertuliskan La ilaaha illalloh Muhammad Rasululloh

Di tahun berikutnya, terjadi revolusi militer untuk menghentikan gerakan Islam dan tentu membubarkan partai serta penangkapan terhadap semua pemimpinnya kecuali Erbakan yang telah ditangkap lebih dulu. Erbakan dan semua pemimpin partainya diadili dengan tuduhan populer. la dijatuhi hukuman penjara selama empat tahun dan Partai Keselamatan Nasional dibubarkan.

Setelah keluar dari penjara, ia membentuk partai baru dengan nama partai Refah. Ia meraih kesuksesan demi kesuksesan hingga dalam waktu yang tidak lama ia mampu meraih 185 kursi legislatif pada tahun 1997. Erbakan menerima surat perintah dari Presiden Sulayman Demira| untuk membentuk pemerintahan baru, akan tetapi lembaga keamanan nasional yang melindungi sekularisme Turki bersama dengan jenderal-jenderal militer memperingatkan perdana menteri agar melakukan proses tertentu terhadap kegiatan-kegiatan |s|am, menentang demontrasi Islam seperti mengenakan jilbab, imam dan khatib, maupun lembaga Tahfizhul Qur'an.

Pada akhirnya, seperti biasa partai Refah dibubarkan, pemimpinnya Erbakan dan sejumlah rekan politiknya dilarang beraktivitas politik selama 5 tahun.

Kemudian, dari balik tirai Erbakan membentuk partai baru pada tahun 2000 dengan nama baru Partai Fadhilah di bawah pimpinan orang lain. Namun, partai ini pada akhirnya dianggap berbahaya dan dituduh menyerang sekularisme meski pada faktanya ia memiliki 110 anggota legislatif, ditambah lagi Erbakan telah diperbolehkan melakukan aktivitas politik kembali.

Musuh-musuh Erbakan memperhitungkan seribu kali kemampuan luar biasa yang dimiliki Erbakan untuk menyihir rakyat dan menyatukan mereka. Oleh karena itu, menurut mereka Erbakan harus dijauhkan dari kancah politik Ia dipenjara selama satu tahun dengan tuduhan menggerakkan kebencian agama dan ras. Lalu, pemerintah melarangnya melakukan aktivitas politik seumur hidup. Dan lembaga peradilan konstitusi membubarkan Partai Fadhilah.

Hasilnya, tak berselang lama muncul partai baru dengan nama Partai Kebahagiaan (Felicity Party), dan sekali lagi Erbakan dihukum penjara. (Buku: Struggle of Success)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel