Iklan Atas Artikel

Film Mahkota Cahaya Vs The Santri, Mana Lebih Baik?


Melihat cuplikan film the santri saja kita sudah dibuat gerah. Bagaimana tidak disaat maraknya pergaulan bebas dikalangan remaja yang berujung pada keruskan moral. Justru the santri memperlihatkan dan mempromosikan adegan pacaran yang seolah memberi pesan kepada penonton "boleh kok pacaran dalam islam." Maka sangat beralasan jika publik ramai-ramai menolak dan memboikot film tersebut sebagai langkah preventif.

Yang ingin tahu letak kontraproduktif dari film The Santri silahkan baca DISINI

Berbeda dengan film the Santri, ada sebuah film pendek karya para santri dari sebuah pondok pesantren. Film ini bisa menjadi alternatif dan pengganti dari film the santri. Judulnya "Mahkota Cahaya". Film ini sangat relefan menggambarkan kehidupan santri yang sebenarnya. Karena para produsennya adalah santri tulen yang merasakan langsung sebagai seorang santri. Selain itu, film ini sangat menginspirasi para santri dalam belajar terutama menghafal al-quran.

Tanpa membutuhkan biaya besar film ini mampu menghilangkan dahaga ditengah gersangnya nilai-nilai islami dalam kehidupan seorang muslim terutama kalangan santri. Dengan teknologi sederhana namun film ini mampu memberikan gambaran kehidupan santri dengan sangat nyata.

Sinopsis

Berawal dari kisah seorang santri bernama Fadhil yang menceritakan pengalaman keberhasilannya dalam menghafal Al-Qur'an selama mondok.

Fadhil menceritakan lika liku perjuangannya dalam menghafal 30 juz.

Fadhil seorang anak kampung yang merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu atas permintaan sang Ibu. Dengan berat hati Fadhil nyantri demi memenuhi keinginan ibunya.

Jauh dari ekspektasi sebelumnya, ternyata kehidupan pondok bagi Fadhil sangat menyiksa. Hidup dibawah aturan pondok yang ketat. Dan tugas hafalan yang memberatkan. Fadhil kerap bergumam dalam hati untuk apa mondok toh jika di rumah bisa sekolah di sekolah favorit.

Waktu terus berjalan. Hari-hari Fadhil lalui dengan rutinitas yang membosankan. Sekolah, hafalan, sekolah, hafalan begitu setiap hari.

Rasa bosan inilah yang menjadikan Fadhil terasa sulit untuk menghafal. Sehingga tidak jarang Fadhil menerima hukuman karena hafalannya tidak lancar. Mengantuk saat hafalan menjadi hal biasa bagi Fadhil.

Sampailah disuatu sore Fadhil dipanggil kakak pengurus datang ke kantor. Dikira akan dihukum Fadhilpun ketakutan. Namun saat sampai di kantor ternyata ada telpon dari kakaknya yang di kampung.

Percakapan antara Fadhil dan kakakpun dimulai. Seprti biasa bertegur sapa dan menanyakan kabar. Dengan bahasa jawa kromo sang kakak menyampaikan bahwa Ibunya telah meninggal dunia. Setengah tak percaya fadhil langsung terdiam hingga suara dari handphon itu putus dan tak berbunyi lagi.

Kepergian sang Ibu membuat pukulan tersendiri bagi Fadhil, sering melamun dan menyendiri diatap asrama pesantren.

Kondisi hafaln Fadhil masih belum berubah, sampai datanglah teman sekamar yang memberikan motivasi kepada Fadhil untuk bangkit dan semangat dalam menyelesaikan hafalannya.

Dengan bantuan sang teman dan keinginan yang kuat untuk bisa menghadiahkan mahkota cahaya kepada sang Ibu, Fadhil begitu semangat dan tak mengenal lelah untuk menghafal. Hampir tidak ada waktu yang tidak digunakan untuk menghafal. Siang malam bahkan di saat yang lain terlelap tidur Fadhil terus menghafal.

Sampai pada akhirnya Fadhil bisa menyelesaikan hafalannya 30 juz dengan baik. Betapa bahagianya Fadhil bisa menyelesaikan hafalannya dengan penuh perjuangan. End.

Pesan Moral

Film Mahkota Cahaya sangat relefan dengan kehidupan santri yang sebenarnya. Dengan latar syuting bangunan pesantren yang sederhana, film ini berhasil menggambarkan kehidupan santri sehari-hari. Jauh dari adegan amoral seperti pacaran dan campur baur laki-laki perempuan.

Film ini sangat layak ditonton oleh para santri maupun orang tua. Karena film ini memberi pesan kepada para santri agar gigih dalam menggapai cita-cita dan membahagiakan orang tua.

Film ini juga memberikan pesan untuk selalu optimis dan pantang menyerah dalam menggapai sebuah impian mulia yaitu menghafal Al-Quran. Dan bahwa siapapun bisa menghafal Al-Quran jika ada kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh.

So, jadi mana yang lebih baik? Silahkan anda nilai sendiri.

Untuk menonton film ini silahkan download melalui link ini: Download Film Mahkota Cahaya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel