Iklan Atas Artikel

Begini Cara Memukul Anak yang Dibenarkan Menurut Islam


Sebagai seorang muslim teladan dalam segala aspek hidupnya adalah Rasulullah, termasuk dalam masalah pendidikan anak. Satu masalah yang menjadi polemik dalam dunia pendidikan adalah hukuman terhadap anak berupa pukulan.

Abu Umamah menjelaskan bahwa Nabi pernah menerima dua anak. Beliau memberikan salah seorang dari keduanya kepada Ali. Beliau berpesan, "Jangan pukul dia karena aku melarang memukul orang yang shalat dan aku melihatnya mengerjakan shalat sejak kami terima" (kitab shahih adabul mufrad)

Perlu difahami bahwa tujuan memberikan hukuman dalam pendidikan Islam hanyalah untuk memberikan bimbingan dan perbaikan, bukan untuk menyakiti atau memuaskan rasa emosi saja. Karena itu, sikolog dan kondisi anak harus diperhatikan terlebih dahulu sebelum seseorang menjatuhkan hukuman. Seorang pendidik maupun orang tua harus menerangkan terlebih dahulu kekeliruan yang dilakukan anak dan memberi semangat serta nasehat kepada anak untuk memperbaiki diri. Orang tua harus memaafkan Kesalahan dan kekhilafannya bila anak tersebut telah memperbaiki diri.

Berikut ini panduan menghukum anak dengan pukulan sesuai petunjuk Nabi:

1. Pukulan tidak boleh dilakukan sebelum anak menginjak umur sepuluh tahun. Hal ini berkenaan dengan masalah meninggalkan shalat, karena shalat adalah rukun islam paling besar sesudah membaca dua kalimah syahadat. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa pelanggaran yang dilakukan bukan berkenaan dengan masalah meninggalkan shalat, seperti masalah yang menyangkut kehidupan, tingkah laku, dan pendidikan; sang anak tidak boleh dipukul karena melanggarnya bila usianya belum mencapai sepuluh tahun.

2. Berupaya keras meminimalkan hukuman pukulan. Jadikanlah pukulan itu seperti garam dalam masakan. Sedikit tapi membuat makanan bertambah lezat, dan bila kebanyakan akan membuat rasanya rusak. Pun demikian dengan pukulan, bila kebanyakan, itu akan mengurangi keampuhan dan efektivitasnya. Bahkan, membuat sang anak didik akan terbiasa dengannya, kemudian akan membuatnya bertambah bodoh. Rasulullah bersabda, “Hukuman cambuk lebih dari sepuluh kali dera tidak boleh dilakukan, kecuali dalam salah satu hukum had dari hukumhukum had Allah.“ (HR Bukhari: 5342)

Berangkat dari hadits tersebut, batas maksimal hukuman pukulan ialah sepuluh kali pukulan dan hal ini pun hanya dilakukan terhadap orang mukallaf. Bagaimanakah jika terhadap anak yang belum mencapai usia taklif? Tentu saja, kita tidak boleh memukulnya sebelum mencapai usia sepuluh tahun. Dahulu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada semua gubernurnya yang ada di berbagai kota besar yang isinya bahwa seorang guru tidak boleh memukul lebih dari tiga kali secara berturut-turut, karena cara ini akan membuat takut anak didik. Pukulan yang dimaksud di sini adalah sebagai pengajaran, bukan hukuman. (lihat kitabul 'iyal karya Ibnu Abu Dunya)

Al-Qadhi Syuraih berpendapat bahwa anak didik tidak boleh dipukul karena melakukan kesalahan dalam membaca Al-Qur'an, kecuali hanya sebanyak tiga kali, sebagaimana Jibril menyekap Nabi Muhammad sebanyak tiga kali.

3. Pukulan Hanya Mengenai Kulit.

Ulama tafsir mengatakan bahwa pukulan memakai cambuk dianjurkan hanya mengenai bagian kulit saja dan tidak boleh melampauinya sampai menembus daging. Setiap pukulan yang melukai bagian daging atau merobek kulit hingga menembus dan melukai daging bertentangan dengan hukum Al-Qur'an dan maksud dari firman-Nya, ”Fajlidu,” yaitu kulit punggung dari tubuh manusia. Maksudnya ialah pukullah sebanyak 100 kali sebagai hukuman atas perbuatannya. Jumlah ini khusus untuk orang-orang baligh ketika diterapkan hukum had.

4. Alat yang dipakai untuk memukul tidak boleh berupa cambuk yang keras atau cambuk yang ada pintalannya, karena ada larangan mengenai hal tersebut.

Zaid bin Aslam telah meriwayatkan bahwa seseorang pemah mengaku kepada Rasulullah bahwa ia telah berbuat zina. Rasulullah pun meminta cambuk, lalu diberikanlah kepada beliau sebuah cambuk yang telah terurai ujungnya. Maka beliau bersabda, ”Di atas ini.” Lalu didatangkanlah sebuah cambuk baru yang masih ada pintalannya pada bagian ujungnya, maka beliau bersabda, ”Di bawah ini." Akhirnya, didatangkanlah kepadanya sebuah cambuk yang telah digunakan dan agak lunak ujungnya, kemudian Rasulullah memerintahkan agar lelaki itu didera dengan cambuk tersebut.

5. Tidak boleh memukul dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar terhadap juru pukulnya, ”janganlah kamu angkat ketiakmu!" Maksud larangan ini ialah agar pukulan yang ditimpakan tidak melukai, yakni tidak terlalu keras dan kuat, karena ada larangan dari Nabi.

6. Hentikan pemukulan jika anak meminta perlindungan kepada Alloh

Bila anak dipukul lalu meminta tolong kepada Allah, pengasuh dan pendidiknya sebaiknya merespon dan menghentikan pukulan sebagai wujud penyucian nama Allah dan pengagungan urusan-Nya, dan belas kasihan bagi anak. Rasulullah telah bersabda:

"Orang yang meminta perlindungan kepada kalian atas nama Alloh maka lindungilah, nama barang siapa minta kepada kalian atas nama Alloh maka berilah." (Hadits shahih dalam kitab shahih jami')

Note: Ketentuan ini hanya berlaku untuk hukuman dalam rangka pembelajaran, sedangkan untuk hukuman had maka tidak boleh dihentikan sekalipun meminta tolong dengan nama Alloh.

7. Jangan Pukul Bagian Sensitif dan dalam Kondisi Emosi

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menghukum anaknya dalam keadaan marah maka hukuman yang ditimpakannya akan berakibat: Tidak bermanfaat, karena tidak tercapainya tujuan dari hukuman tersebut. Menimbulkan rasa antipati, dendam dan kebencian dalam diri anak. Pukulan yang ditimpakan saat itu bukan untuk tujuan mendidik, melainkan untuk memuaskan diri dan menyalurkan kemarahan yang bergejolak dalam dada terhadap anak didik yang mestinya dikasihani.

Baca juga artikel ini : Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget

Orang yang dalam keadaan marah seperti ini biasanya tidak menjaga aturan hukum-hukum Allah saat menimpakan pukulan. Adakalanya dia memukul bagian wajah atau bagian yang sensitif, Seperti kepala, leher, dan kemaluan. Padahal, bagian-bagian ini tidak boleh dipukul. Bisa juga pukulan yang diarahkan ke bagian-bagian tersebut akan menimbulkan cacat permanen pada diri anak, bahkan akan menghantarkannya pada kematian. Contoh-contoh mengenai kasus ini cukup banyak menimbulkan tragedi yang memilukan. (Islamic Parenting Pendidikan Anak Metode Nabi)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel