Iklan Atas Artikel

Tata Cara Shalat Orang yang Tidak Mampu Berdiri Menurut Madzhab Syafi'i


Berdiri dalam shalat wajib adalah merupakan rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan, hal ini berdasarkan ijma' jumhur ulama. Ukuran lama berdiri yang diwajibkan menurut madzhab Syafi'i adalah seukuran membaca takbir dan membaca surat al-fatihah. Namun bagi orang yang tidak mampu berdiri maka boleh shalat sesuai dengan kemampuannya.

Para ulama sepakat, bahwa wajibnya berdiri dalam shalat fardhu dan sunnah itu gugur bagi orang yang lemah dan tidak mampu berdiri. Dalilnya adalah hadits riwayat Imran ibnul Hushain, "Shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu, maka sambil duduk, Jika tidak mampu duduk. maka shalatlah sambil berbaring miring." jika ia mampu berdiri, namun hanya bacaan satu ayat, maka ia harus melakukannya.

Menurut mayoritas ulama selain Syafi'iyyah, kewajiban berdiri juga gugur bagi orang yang shalat dalam keadaan telanjang. Shalatnya dilakukan sambil duduk dengan menggunakan isyarat, jika memang tidak menemukan kain untuk menutup auratnya.

Di antara kondisi-kondisi lemah yang menggugurkan kewajiban berdiri dalam shalat adalah kondisi perawatan, seperti orang yang darahnya akan mengalir dari lukanya jika ia berdiri, atau seseorang yang dalam perawatan mata yang mengharuskan telentang. Di antaranya juga kondisi penyakit beser, tidak dapat menahan kencing jika berdiri. Dan itu dapat ditahan jika sambil duduk. Orang yang dalam kondisi seperti itu boleh melakukan shalat sambil duduk, tanpa harus mengulang shalatnya. Pendapat ini juga didukung oleh ulama Syam dalam pendapat yang lebih shahih.

Di antara kondisi yang menggugurkan berdiri dalam shalat adalah. ketika dalam keadaan takut terlihat oleh musuh jika berdiri. Dalam keadaan itu, ia boleh shalat sambil duduk dan tidak perlu mengulang shalatnya, menurut ulama Syafi'i iuga.

Kondisi lain yang menggugurkan berdiri dalam shalat menurut ulama Hanabilah di antaranya, rendahnya atap bagi orang yang tidak mampu keluar dan shalat di belakang imam yang lemah tidak mampu berdiri.

Batasan Berdiri

Menurut madzhab Syafi'i, batasan berdiri dalam shalat itu dengan meluruskan ruas tulang punggung. karena berdiri berkaitan dengan tulang punggung. Dan tidak disyaratkan menegakkan leher karena sunnahnya menundukkan kepala. Jika berdiri sambil membungkuk atau miring ke kanan atau ke kiri. sehingga tidak bisa dinamakan berdiri. maka tidak sah karena meninggalkan suatu kewajiban tanpa udzur. Membungkuk yang meniadakan arti berdiri adalah, jika membungkuk hampir seperti ruku'. Namun jika dekat dengan berdiri atau tegak. maka masih dianggap berdiri dan sah. Artinya, madzhab Syafi'i dalam hal ini sama dengan pendapat Maliki dan Hambali.

Tata Cara Shalat Orang yang Tidak Bisa Berdiri

Dalam madzhab Syafi'i terdapat tujuh (7) cara shalat orang yang tidak bisa berdiri karena adanya udzur syar'i. (alasan yang dibenarkan menurut syariat). Berikut ini uraian selengkapnya

1. Jika seseorang sudah tidak mampu berdiri dalam shalat fardhu, namun tulang punggungnya masih bisa tegak. maka ia melaksanakan shalat sambil membungkuk, karena yang mudah dilakukan tidak jadi gugur karena adanya kesulitan.

2. Jika seseorang sudah tidak mampu berdiri sama sekali (misalnya jika ia berdiri maka akan mengalami kesulitan yang berat dan ia tidak mampu menahannya, seperti pusing dan pening) maka ia boleh shalat sambil duduk sesuai kemampuannya, karena berdasarkan hadits riwayat lmran ibnul Hushain. la boleh ruku' dengan menghadapkan dahinya ke arah kedua lututnya, namun yang lebih afdhal dan lebih sempurna adalah dengan menghadapkannva ke arah sujud. Ukuran menghadap ke bawah saat ruku‘ dan sujud bisa dikira-kirakan sendiri, sesuai ukuran ruku‘nya orang shalat sambil bendiri. Karena sunnah bagi seseorang untuk melihat pada tempat sujudnya ketika shalat.

Kemudian untuk duduk, lebih baik duduk seperti halnya ketika duduk pada tasyahud awal. Dan lebih afdhal menurut pendapat Azhhar dari pada duduk bersilang kaki di bawah paha. Karena, duduk seperti dalam tasyahud itu adalah yang dianjurkan dalam shalat. jadi, tentunya duduk seperti itu lebih afdhal daripada duduk yang lainnya. Dan dimakruhkan baginya untuk duduk seperti anjing dan kera, yaitu duduk dengan pantat sambil meluruskan kedua lututnya.

3. Jika sudah tidak mampu shalat sambil duduk, maka ia wajib shalat sambil berbaring miring dan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Miring ke kanan lebih afdhal daripada miring ke kiri, dan hukumnya makruh miring ke kiri jika masih bisa miring ke kanan.

4. Jika sambil berbaring juga tidak mampu, maka boleh shalat sambil terlentang. Namun,tetap wajib mengangkat kepala menghadap kiblat meski dengan bantuan bantal, kecuali jika ia berada di Ka‘bah beratap, maka ia boleh telentang dengan punggungnya atau dengan wajahnya jika memang tidak beratap. Karena bagaimanapun menghadap, ia tetap mengarah ke Ka‘bah. Sedangkan untuk ruku‘ dan sujud, ia boleh melakukannya sesuai kemampuan. Boleh dengan isyarat kepala untuk ruku‘ dan sujud, dan tentunya untuk sujud agak lebih dalam isyaratnya daripada untuk ruku‘.

5. Jika semua hal di atas tidak mampu dilakukan, maka ia boleh shalat dengan isyarat mata untuk semua gerakan shalat.

6. Jika tidak mampu melakukannya juga, maka ia shalat dengan hatinya, beserta sunnah sunnahnya, misalnya dengan membayangkan dirinya berdiri, ruku', dan seterusnya. Kemudian jika lidahnya kelu dan kaku hingga tidak dapat berbicara. maka rukun-rukun dalam shalat yang berupa bacaan boleh dilakukan dalam hati. Meski keadaan seperti itu, namun kewajiban shalat tidak menjadi gugur selama ia masih berakal dan termasuk dalam hitungan taklif. Selama ia mampu melakukan shalat dalam keadaan apa pun, maka ia harus menjalankan shalat.

7. Orang yang mampu shalat sambil berdiri boleh mendirikan shalat sunnah sambil duduk, atau sambil berbaring menurut pendapat yang lebih shahih, bukan sambil telentang. Kemudian duduk untuk ruku‘ dan sujud. Tidak boleh menggantikan keduanya dengan isyarat jika shalat sambll berbaring. Hal ini karena memang tidak ada nash hadits yang menjelaskannya.


Adapun untuk masalah pahala. maka pahala shalat orang yang duduk dan ia mampu untuk berdiri itu setengah dart pahala shalat orang yang berdiri. Dan pahala shalat orang berbaring. setengah dari pahala shalat orang yang duduk. Karena, ada hadits yang menjelaskan tentang hal itu.

Kesimpulannya: orang yang sakit tetap harus menjalankan shalat meski dalam keadaan apa pun. Ia melakukan shalat sesuai kemampuannya, meski hanya dengan isyarat dan dia tidak wajlb mengulang shalatnya. Akan tetapi orang yang tenggelam dan terbelenggu, keduanya shalat dengan isyarat, namun mengulang shalatnya jika masih ada kesempatan.

[Kitab Mughnil Muhtaj Vol. I Hlm 154]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel