Iklan Atas Artikel

Tata Cara Ruku' Menurut Jumhur 'Ulama Beserta Dalilnya

Tata cara ruku yang benar menurut ulama dan dalilnya

Ruku' merupakan rukun shalat yang keempat. Tidaklah sah shalat tanpa melakukan gerakan ruku'. Namun untuk mencapai ruku' yang sempurna perlu memperhatikan batasan dan tata caranya menurut penjelasan para ulama.

Pengertian Ruku'

Ruku' secara etimologi artinya membungkuk, sedangkan secara terminologi artinya membungkukkan kepala dan punggung bersamaan dengan memegang kedua lutut. Sederhananya. ruku' adalah membungkuk sambil memegangi kedua lutut. Detailnya, ruku' adalah meluruskan punggung dan leher [membungkukkan keduanya hingga lurus seperti papan yang lurus horisontal] mengikuti apa yang telah dituturkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. 

Tata Cara Ruku'

Berdasarkan pada hadits riwayat Muslim, tata cara ruku' adalah dengan cara meluruskan kedua kaki dan paha, meluruskan antara kepala dan pantat, memegang kedua lutut dengan kedua tangan sambil merenggangkan jari-jari menghadap kiblat. Posisi kepala lurus, tidak diangkat ke atas dan juga tidak terlalu menunduk. Kedua siku direnggangkan ke samping bagi lelaki, dan dirangkapkan bagi perempuan. Untuk orang yang bungkuk, boleh sedikit membungkuk lagi jika memang mampu.

Dalil Wajibnya Ruku'

Adapun dalil wajibnya ruku' adalah firman Allah SWT yang berbunyi, 


"Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (al-Hajj: 77)

Selain itu juga hadits tentang seseorang yang shalatnya jelek, “Kemudian ruku'lah hingga tenang dalam keadaan ruku'." Juga, ijma ulama yang menguatkan dalil wajibnya ruku' dalam shalat.

Sedangkan untuk dalil meletakkan kedua tangan pada lutut adalah sebuah hadits yang dituturkan oleh Abu Humaid mengenai sifat shalat Rasulullah saw., "Aku pernah melihat Rasulullah saw. ruku' sambil meletakkan kedua tangan beliau pada kedua lutut, lantas membungkukkan punggung beliau.” Maksudnya, membungkuk hingga lurus.

Sedangkan dalil merenggangkan jari-jari adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas'ud Uqbah bin Amr bahwa ketika ruku' ia membuka tangan dan meletakkannya pada kedua lutut, lantas merenggangkan iari-iari. Kemudian ia berkata, “Begitulah aku melihat Rasulullah saw. shalat.

Adapun dalil menjaga keseimbangan kepala, tidak terlalu naik dan tidak terlalu turun adalah hadits dari Aisyah r.a.. la berkata, “jika ruku‘ dalam shalat, Rasulullah saw. tidak mengangkat kepala dan tidak menurunkannya, tetapi beliau menjadikannya seimbang.” Dalil ini dikuatkan juga dengan hadits Nabi saw. yang berbunyi, "niscaya mangkuk itu tidak bergerak karena punggung beliau dalam keadaan lurus."

Menurut madzhab Syafi'i dan Hambali, ruku' disyaratkan bukan untuk yang lain. Artinya jika ia membungkuk turun untuk tilawah, maka hal itu tidak boleh.

Tuma'ninah Dalam Ruku'

Tuma'ninah dalam ruku', batas minimal tuma'ninah dalam ruku' itu adalah berdiam dalam keadaan ruku' hingga semua anggota tenang selama kira-kira selesai membaca tasbih pada ruku', sujud, dan ketika bangkit dari keduanya. Tuma'ninah ini hukumnya wajib menurut madzhab Hanafi karena perintah dalam firman Allah hanyalah untuk ruku' dan sujud, “Ruku'lah kamu, sujudlah kamu.” (al-Hajj: 77) dalam ayat ini tidak menyebutkan tuma'ninah. Akan tetapi. mayoritas ulama berpendapat bahwa tuma'ninah itu fardhu berdasarkan hadits orang yang shalatnya jelek. “Kemudian ruku'lah hingga tenang dan tuma'ninah dalam ruku'." Abu Qatadah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda.


"Sejelek-jelek pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya." Dikatakan, “Ya Rasulullah, bagaimana maksudnya orang mencuri dalam shalatnya?” Beliau meniawab, “Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku,’ sujud, dan kekhusyukannya.”


"Tidaklah cukup shalat seseorang yang tidak menegakkan punggungnya dalam ruku' dan sujud.”

Akan tetapi Abu Hanifah dan Muhammad berkata. “Hadits-hadits yang dijadikan dalil ini termasuk hadits Ahad, jadi hukumnya tidak sampai menjadikan fardhu pada firman Allah yang berbunyi, 'Ruku'lah kamu, sujudlah kamu." (al-Hajj: 77) Hal ini bertujuan agar tidak terjadi penghapusan nash mutawatir, hanya karena hadits Ahad. Karena, menurut mereka penambahan hukum terhadap nash itu dianggap menghapus. Akan tetapi. berbeda dengan pendapat Abu Yusuf yang mengatakan bahwa tuma'ninah itu termasuk fardhu, padahal dia juga termasuk ulama madzhab Hanafi. Wallohu 'alam. (Terjemah Kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel