Iklan Atas Artikel

Syarat-syarat Kondisi Darurat Menurut Jumhur Ulama yang Harus Terpenuhi


Tidak seluruh orang yang mengklaim menghadapi kondisi darurat diterima klaimnya, atau dibolehkan melakukan hal-hal yang haram. Akan tetapi, ada syarat-syarat dan aturan-aturan yang harus dipenuhi agar klaim darurat tadi dapat diterima, berikut ini 6 syarat yang harus terpenuhi agar kondisi darurat membolehkan seseorang melakukan yang sebelumnya haram.

1. Kondisi darurat tersebut hendaklah sudah benar-benar ada, bukan baru diperkirakan akan terjadi di masa datang. Dengan ungkapan lain, kekhawatiran atau ancaman terjadinya kebinasaan pada jiwa dan harta itu hendaklah sudah benar-benar riil, dengan dugaan yang kuat berdasarkan pengalaman. Contohnya keyakinan seseorang bahwa ia akan meninggal jika tidak segera makan. fadi, dalam masalah ini cukup disyaratkan adanya suatu dugaan yang kuat, seperti dalam hal pemaksaan untuk memakan sesuatu yang haram, dan tidak disyaratkan adanya keyakinan penuh atau si pelaku benar-benar sudah sekarat terlebih dahulu. Bahkan jika orang itu sudah benar-benar sampai ke kondisi kritis ini, maka sebenarnya sudah tidak ada gunanya lagi memakan makanan yang haram tersebut. Sehingga menurut pendapat madzhab Syafi'i, sudah tidak dibolehkan lagi baginya memakannya.

2. Orang yang dalam kondisi darurat itu sudah dalam posisi wajib untuk melakukan hal yang dilarang syariat tadi. Dalam artian, ia sudah tidak memiliki cara lain yang mubah untuk menghindari kondisi tersebut. jadi, hanya memakan makanan yang haram itulah satu-satunya cara untuk keluar dari kondisi darurat tersebut. Hal itu dikarenakan alasan untuk dibolehkannya menggunakan hal-hal yang diharamkan dalam kondisi darurat adalah, sudah tidak adanya lagi alternatif makanan yang halal dimakan sehingga harus memakan yang haram. Tentang prinsip seperti ini, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

3. Uzur atau alasan yang membolehkan orang itu melakukan sesuatu yang haram harus benar-benar ada, seperti alasan untuk memelihara nyawa atau organ tubuh tertentu dari kerusakan jika yang bersangkutan menderita kelaparan. Contoh lainnya adalah adanya kekhawatiran orang itu jika tidak makan, maka ia tidak akan bisa lagi melanjutkan perjalanan dan tertinggal dari rombongan sehingga akan menyebabkannya binasa. Atau kondisi jika yang bersangkutan tidak makan, maka ia akan tidak sanggup lagi menunggang kendaraannya sehingga menjadi celaka. Dengan contoh-contoh ini, jelaslah bahwa seluruh hal yang membolehkan seseorang bertayamum, seperti yang ditegaskan madzhab Syafi'i dan Hambali, juga membuatnya boleh mengonsumsi hal-hal yang haram atau melakukan perbuatan-perbuatan terlarang. Dengan begitu, adanya kekhawatiran akan terjadinya kerusakan yang berat pada organ tubuh tertentu dipandang sebagai alasan yang kuat (untuk bolehnya mengonsumsi yang haram) seperti halnya adanya ketakutan akan berlanjutnya penyakit yang diderita dalam waktu yang panjang. Dalam kedua kondisi ini, seseorang dibolehkan untuk memakan sesuatu yang diharamkan.

4. Orang yang dalam kondisi darurat ini tidak boleh melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam. jadi, ketika itu ia tidak boleh dalam kondisi melakukan zina, pembunuhan, kekafiran, dan pencurian dalam bentuk apa pun. Karena, semuanya adalah perbuatan yang mengandung kerusakan secara zatnya, sekalipun dalam hal kekafiran ia diberikan keringanan untuk mengucapkan kafir secara lisan asalkan hatinya tetap Islam, sebagaimana juga diberi keringanan untuk mengambil barang milik orang lain walaupun dengan cara merampas, apabila si pemilik barang tidak dalam kondisi darurat.

Dari gambaran di atas, terlihat bahwa kebolehan (ibahah) berbeda dari keringanan (rukhshah); yang pertama adalah perubahan sesuatu yang haram menjadi halal dalam arti sifat haram yang dikandungnya menjadi lenyap, sementara yang kedua adalah kondisi terhindarnya si pelaku dari dosa sementara perbuatan yang dilakukannya tetap haram. Selanjutnya, tidak dibolehkan sama sekali membunuh orang lain lalu dagingnya dimakan, sebagaimana tidak dibolehkan menurut jumhur ulama selain Syafi'iyah memakan daging manusia yang sudah meninggal, seperti akan dijelaskan nanti. Lebih lanjut, menurut pendapat yang dipandang lebih kuat di kalangan ulama-ulama dari keempat madzhab, diharamkan meminum khamr kecuali untuk mendorong makanan yang menyumbat di kerongkongan. Yaitu, jika tidak ada cairan lain untuk menghilangkannya. Demikian juga, menurut madzhab Maliki diharamkan memakan darah, kotoran [tahi), unta yang tersesat (dhallat al-ibil).

5. Menurut jumhur ulama, hendaklah orang tersebut mencukupkan diri pada batas minimal, dalam arti untuk sekadar keluar dari kondisi darurat itu, sebagaimana akan dijelaskan. Alasannya, kebolehan mengonsumsi makanan yang haram ini hanyalah untuk melepaskan diri si pelaku dari kondisi darurat. Sementara,ukuran kedaruratan itu hanyalah dalam kadar kebutuhan.

6. Dalam hal mengonsumsi sesuatu yang haram untuk pengobatan pada kondisi darurat, hendaklah berdasarkan diagnosa dari seorang dokter yang tepercaya; baik dalam hal agamanya maupun keilmuannya. Selain itu, pemakaiannya hendaklah pada situasi tidak ada lagi alternatif obat yang halal yang bisa menggantikan obat haram tersebut. Berikutnya, kondisi darurat tidaklah terkait dengan periode waktu tertentu, dikarenakan kondisi berbeda pada masing-masing orang. [Fiqhul islam wa adillatuhu, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel