Iklan Atas Artikel

Panduan Membuat Karya Tulis Yang Baik dan Benar


Seperti halnya berpidato, menulis memang pekerjaan yang susah-susah gampang. Bagi orang yang belum terbiasa menulis, biasanya cukup sulit untuk menuangkan gagasan dalam tulisan, meski diberi waktu seminggu - misalnya. Tapi bagi orang yang sudah terbiasa menulis, sehari bisa menuangkan hasil pengamatan dan pikirannya dalam berlembar-lembar halaman tulisan.

Jadi, keahlian menulis sebenarnya banyak ditunjang oleh faktor kebiasaan. Dan ini dapat dimulai pertama kali, dengan cara membiasakan membuat catatan harian. Karena orang yang terbiasa membuat catatan harian, akan mudah menangkap dan menuangkan pengalaman yang diperoleh, meskipun sekejap, dalam lembar tulisan. Berbekal dengan kebiasaan menulis catatan harian, seseorang bisa menjadi penulis produktif dan berkualitas, asalkan ditunjang dengan banyak membaca buku dan surat kabar.

Secara sederhana, ada delapan langkah sederhana menulis yang bisa digunakan untuk menuangkan gagasan dalam lembar tulisan, sebagaimana berikut.

#Pertama, Memilih Topik 

Yaitu memilih atau menentukan pokok pembicaraan atau pokok permasalahan, sesuatu yang akan kita sorot, kita kunyah-kunyah lewat tulisan kita. Kita dapat memilih topik tentang politik, sastra, budaya, ekonomi, agama, pendidikan, pertanian, psikologi, atau apa saja yang menarik perhatian pembaca. Kita harus memilih satu topik saja untuk satu kalangan.

#Kedua, Menentukan Tema

Setelah memilih topik, barulah kita menentukan tema sesuai dengan topik yang kita pilih. Tema adalah pikiran dasar, pikiran dasar cerita, atau pokok pikiran yang mendasari suatu pikiran, yang akan dijabarkan oleh karangan tersebut dari awal sampai akhir. Tema sesungguhnya merupakan penyempatan topik. ia langsung menunjuk aspek permasalahan yang kita bahas dalam tulisan. Dengan demikian, tema merupakan rel dimana kereta api (artikel) kita akan meluncur di atasnya atau pembatas masalah yang akan kita kupas. Dapatkah dikatakan sebagai fokus pembicaraan, agar tulisan tidak akan melebar kemana-mana.

Misalnya, kita memilih topik tentang "Perkembangan Hukum Islam Indonesia Mutakhir.” Topik yang cukup luas ini kita persempit menjadi, misalnya tema Peranan Fatwa MUI dalam Pengembangan Hukum Nasional atau ”Pengaruh Fatwa MUI Kontemporer dalam Sistem Hukum Nasional atau Mencari Konteks Sosial Hukum Islam Indonesia Mutakhir, dan masih banyak tema yang lain. Yang perlu diingat adalah kita jangan memilih tema yang terlalu luas, karena merepotkan pembahasan dan pengumpulan bahan, serta bisa membuat karangan kita terlalu panjang. Aktualitas dan orsinilitas topik dan tema yang kita pilih sangat menentukan daya tarik, manfaat, dan peluang artikel kita untuk masuk di media massa. Jika tekanan kita pada aktualitas, mau tidak mau, kita harus pandai-pandai membaca isu-isu, sinyalemen, atau kecenderungan-kecenderungan yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Dalam hal ini, kita perlu menghindari kecenderungan menjadi buntut, artinya hanya menguntit yang berkembang di masyarakat dari belakang. Kita perlu melangkah lebih maju dengan membaca kemana kira-kira suatu kecenderungan akan berkembang dan kemana sebaiknya opini publik kita arahkan. Dalam kaitan ini, penulis punya peluang untuk membentuk opini yang lebih sehat di masyarakat.

#Ketiga, Mengumpulkan Bahan

Bahan-bahan untuk penulisan karya ilmiah bisa kita kumpulkan dari pustaka (buku), majalah, koran, makalah, wawancara dengan pakar, observasi, atau penelitian, sesuai dengan yang kita butuhkan. Bahan-bahan yang kita perlukan bisa sebuah tesis atau sejumlah tesis dari para pakar. Tesis ini minimal akan berguna sebagai sumber gagasan, landasan pacu, atau bahkan bisa menjadi topik untuk kita uji kekuatannya guna menemukan tesis baru. Dari sisi lain ini, kegiatan pengumpulan bahan bisa jadi merupakan kegiatan awal di mana seseorang belum menemukan topik atau tema yang menarik untuk ditulis. Bahan lain yang sering diperlukan adalah landasan teori sebagai landasan berfikir untuk menganalisis suatu masalah atau sebagai rel unuk menuju tesis baru. Juga berbagai informasi (fakta-fakta) pendukung gagasan-gagasan atau pendapat-pendapat kita.

#Keempat, Memilih atau Membuat Judul

Setelah kita memilih topik, selanjutnya menentukan tema, dan mengumpulkan bahan, biasanya kita sudah bisa membuat judul karangan yang menarik. Membuat judul bisa juga dilakukan sesudah kegiatan menulis selesai. Tetapi, membuat sebelum mulai mengarang akan bermanfaat: yakni bisa memberi arah yang lebih jelas pada tulisan yang akan dibuat, bahkan bisa juga menyempitkan lagi tema yang telah kita tentukan sebelumnya jika tema tersebut ternyata masih mencerminkan daerah garapan yang terlalu luas. Misalnya, kita memilih tema ”Perkembangan terakhir Hukum Islam Indonesia mutakhir." Tema ini bisa kita persempit lagi misalnya dengan judul pengaruh hukum Islam pada perundangan hukum Indonesia kontemporer atau lainnya.

#KeIima, Memilih Pola Penggarapan

Ada lima pola penggarapan tulisan ilmiah, yakni pola pemecahan masalah, pola pendapat dan alasan pemikiran, pola kronologi, pola pembandingan, dan pola abstraksi deskripsi. Dalam menulis, kita bisa menggunakan satu, dua, atau tiga pola sekaligus, sesuai kebutuhan, bahkan kita bisa saja mencoba pola sendiri yang lebih pas, asalkan bisa menjamin terjaganya sistematika dan logika berpikir kita. Melalui langkah ini kita mengkoordinasi atau mensistematisir bahan-bahan dan gagasan yang akan kita tuangkan. Pemilihan pola penggarapan bisa juga dianggap sebagai pemilihan sistematika atau logika berpikir kita dalam keutuhan sebuah tulisan ilmiah.

#Keenam, Membuat Outline

Mereka yang sudah terbiasa menulis sering tidak membutuhkan perumusan outline tertulis lagi karena outline itu sudah ada dalam kepalanya. Akan tetapi, bagi para penulis pemula, outline tertulis akan sangat membantu dalam proses penulisan karya ilmiah. Outline bisa membantu menuntun sistematika tulisan, apa yang pernah ditulis dan dikemukakan, lalu bisa mengingatkan mengenai aspek mana saja yang harus dibahas sesuai tema yang digarap. Yang dimaksud outline adalah garis besar atau kerangka karangan.

#Ketujuh, Memulai atau Membuka Karangan

Bagi para panulis pemula, memulai mengarang seringkali menjadi pekerjaan yang sangat sulit dilakukan. Bahkan, sering dialami oleh penulis pemula, ia membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk menemukan cara memulai yang enak dan menarik ketika akan menulis. Untuk mengatasi hal ini ada beberapa jenis intro (pembuka) karangan yang bisa digunakan untuk membantu memulai tulisan, yakni intro statemen, intro abstraksi, intro analogi, intro narasi, intro deskripsi, intro cuplikan kata mutiara atau karya sastra, intro sapaan langsung, dan intro pertanyaan. Pilihan itu nantinya bergantung pada selera penulis, tema yang diangkat, dan media massa yang akan dikirimi.

#Kedelapan, Membangun serta Menutup Karangan

Setelah berhasil membuka karangan, biasanya gagasan-gagasan berikutnya akan mengalir sendiri dengan lancar. Ibarat kran air yang telah dibuka tutupnya, membangun seluruh karangan pada hakekatnya adalah menyusun kalimat demi kalimat, alenia demi alenia, gagasan demi gagasan, argumentasi demi argumentasi, analisis demi analisis, sesuai dengan tema dan pola penggarapan yang kita pilih sampai dengan kesimpulan, saran, atau solusi yang bisa bermanfaat bagi pembaca.

Artikel selanjutnya: Apa Manfaat Hapus UN Bagi Siswa

Itulah delapan langkah menulis sebuah karya yang tulis baik dan benar yang bisa anda terapkan. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel