Iklan Atas Artikel

Mengenal Istilah Bayani, Irfani dan Burhani


Bagi anda yang mengikuti perkembangan media sosial pasti tidak asing dengan tiga istilah ini, Bayani, Irfani dan Burhani. Mengapa? Karena ketiga istilah ini populer melalui unggahan seorang netizen baru-baru ini yang kemudian menjadi viral.

Seiring dengan viralnya ketiga istilah tersebut, kitapun dibuat penasaran dan bertanya-tanya apa makna yang terkandung dalam tiga istilah itu. Serta dari mana asal usulnya.

Untuk mengetahui jawabannya berikut ini adalah penjelasan singkat dari Ustadz Hafidin Achmad Luthfie tentang asal-usul dan pengertian dari istilah bayani, Irfani dan burhani.

Asal-usul Istilah

Ketiga istilah atau terminologi diatas adalah istilah-istilah dalam filsafat [Islam]. Kemudian diadopsi dalam tashowwuf. Lalu digunakan kaum cendikiawan sekuler dan liberal Arab seperti Abid al-Jabiri dll.

Makna Bayani

Bayani, dalam istilah mereka, adalah metodologi mencapai kebenaran dengan menggunakan teks agama [wahyu] dan bahasa [arab].

Dalam pandangan mereka metodologi bayani adalah tingkat paling rendah.

Konsekuensinya para imam-imam Islam yang selalu mendasarkan qaul (perkataan), fi'il (perbuatan) dan i'tiqod (keyakinan) atasnya, dalam pandangan mereka, baru mencapai tingkat dasar ilmu.

Dalam dunia mistis tingkatan itu sejajar dengan derajat syariat. Orang-orang ditingkat ini disebut "kaum awam". Dan mereka terikat dengan aturan-aturan agama.

Makna Irfani

Irfani adalah sebuah metodologi untuk mendapat "isyrooq" [pencerahan spiritual] melalui proses intuisi [dzauq], keinginan hati [irodah], dan perenungan-perenungan bathin.

Pada tahap ini pikiran digunakan sebatas buat menjelaskan pengalaman-pengalaman mistik keagamaan.

Dalam filsafat mistik tingkat ini sejajar dengan tingkat makrifat. Orang pada fase itu biasanya mulai meninggalkan syariat. Dia beragama atas dasar "isyrooq" tersebut. Dia masih terikat dengan  sedikit aturan syariat. Dan sudah banyak meninggalkan syariat.

Makna Burhani

Yang terakhir adalah istilah burhani. Burhani adalah metodologi mencapai kebenaran dengan pendekatan akal semata. Wahyu dan pengalaman mistik tak lagi digunakan. Akal sangat mendominasi pada tingkat ini. Penafsiran agama telah keluar dari agama itu sendiri.

Kalau dalam dunia filsafat mistik tingkat itu sejajar dengan hakikat. Dan orang pada tingkat ini telah menanggalkan syariat. Tidak melaksanakan syariat. Tak terikat lagi dengan hukum dan petunjuk syariat. Karena dia sudah menjadi kebenaran itu sendiri. Dirinya, dalam klaimnya, sudah menyatu dengan Tuhan [wihdatul wujuud].

Apakah Para Salaf dan Imam-imam Islam Mempelajari ilmu itu?

Jawabannya Tidak. Orang-orang Salaf dan imam-imam Islam yang qoulnya diikuti, fi'ilnya (perbuatannya) diteladani, dan i'toqodnya (keyakinannya) diridhoi tidak pernah belajar ilmu-ilmu tersebut. Bahkan mereka mentahdzirnya (melarangnya). Dan bahkan mereka mengkafirkan pendaku tingkat burhani dan hakikat.

Pengkafiran salaf dan imam-imam pada Ibnu Sina dan al-Farobi dari kalangan filsuf serta al-Hallaj dan Ibnu Arobi sangat masyhur.

Islam itu adalah apa yang ada dalam kitabullah, sunnah dan ijma salaf dan imam-imam.

Memegang tiga pusaka itu berarti mengikuti Islam murni. Meninggalkan tiga pusaka itu berarti keluar dari Islam.

Demikian semoga tulisan ini menjawab kegalauan netizen dan anda pembaca yang budiman. Dan menambah wawasan kita dalam memahami tiga terminologi diatas yaitu burhani, irfani dan bayani.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel