Iklan Atas Artikel

Hukum Memakan Daging Kurban Bagi Yang Berkurban Menurut Madzhab Syafi'i


Mengenai hukum memakan daging kurban bagi seseorang yang berkurban terdapat sedikit perbedaan pendapat dikalangan ulama madzhab. Diantara perbedaan yang mencolok dengan pendapat jumhur adalah madzhab Syafi'i. Lalu bagaimana hukum memakan daging kurban oleh orang yang berkurban dalam madzhab syafi'i? Berikut penejelasan selengkapnya.

Mengenai hukum boleh dan tidaknya memakan daging korban bagi sipemilik, bisa dibedakan menjadi dua keadaan. Yaitu antara Qurban Wajib dan Qurban sunnah.

Dalam hal kurban yang berstatus wajib, seperti kurban yang disebabkan nadzar atau hewan yang sudah ditetapkan sebagai kurban, maka dagingnya TIDAK boleh dimakan oleh si pemilik kurban maupun pihak-pihak lain yang berada di bawah tanggungannya. Sebaliknya, diwajibkan kepada orang itu menyedekahkan seluruh dagingnya. Dan apabila hewan yang telah ditetapkan sebagai kurban itu tiba-tiba melahirkan anak, maka anaknya itu harus ikut disembelih seperti induknya. Namun, dibolehkan bagi si pemilik kurban memakan daging si anak hewan. sebagaimana kebolehan baginya meminum susu sl induk hewan. Alasannya adalah, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, adanya kebolehan bagi si pemilik kurban meminum air susu si induk hewan yang berlebih dari yang diperuntukkan bagi anaknya, namun hukumnya makruh. 

Adapun dalam hal kurban yang bersifat sunnah, maka dianjurkan bagi si pemilik kurban turut memakan beberapa potong daging hewan itu, dalam rangka mendapatkan berkah dari kurban yang ia lakukan. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT, 


"... Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan anang-orang yang sengsara dan fakir." (al-Hajj: 28] 

Di samping itu. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Baihaqi disebutkan, bahwa Rasulullah saw. juga pernah memakan hati hewan yang beliau kurbankan. Hukum memakan daging hewan itu sendiri tidak wajib, seperti juga menurut pendapat madzhab Zahiri yang berpegang pada zahir lafal ayat, dikarenakan pada ayat lain Allah SWT berfirman,


"Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah” (al-Hajj: 36)

Dalam ayat ini Allah SWT menjadikannya sebagai tanda bagi kita. umat manusia, sementara hal-hal yang diperuntukkan untuk manusia hukumnya adalah kebolehan untuk memilih antara tidak memakannya atau memakannya. Dalam kondisi ini juga. si pemilik kurban boleh memberikan daging kurban itu kepada seorang yang kaya, yaitu dengan pemberian dalam bentuk hadiah. Akan tetapi, tidak boleh baginya menjualnya kepada si orang kaya atau melakukan tindakan lain yang menjadikan orang kaya itu memiliki secara penuh daging tersebut.

Dalam hal memakan daging kurban tersebut, menurut qaul jadid [pendapat yang baru] dalam madzhab Syafi'i, si pemilik dibolehkan memakan sepertiga dari kurbannya itu. Sementara dalam qaul qadim, disebutkan bahwa si pemilik boleh memakan setengahnya sementara yang setengah lagi disedekahkan.
Selanjutnya, menurut pendapat yang lebih kuat dalam madzhab syafi'i, adalah wajib hukumnya menyedekahkan bagian tertentu dari daging kurban kepada orang miskin, walaupun hanya pada satu orang, juga sekalipun yang disedekahkan itu hanya sedikit (yaitu dalam kadar di mana orang yang berkurban itu sudah dapat dikatakan menyedekahkan daging). Akan tetapi, yang lebih utama baginya adalah menyedekahkan seluruh daging, kecuali beberapa potong yang boleh ia makan dalam rangka mendapatkan berkah berkurban, seperti telah dijeIaskan di atas.

Dalam kurban yang bersifat sukarela ini pula, si pemilik kurban boleh menyedekahkan kulit hewan itu kepada orang lain atau memanfaatkannya sendiri, sebagaimana dibolehkan baginya memakan sendiri daging kurbannya, walaupun menyedekahkannya lebih utama. Adapun dalam hal kurban yang tersebut bersifat wajib, maka wajib pula bagi orang itu menyedekahkan kulitnya dan dilarang dikonsumsi sendiri.

Artikel terkait: Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Puasa 'Arafah

Selanjutnya, tidak diperbolehkan baginya mendistribusikan daging kurban itu dari negerinya ke negeri lain, yang jaraknya sejauh perjalanan yang telah membolehkan orang mengqashar shalat. Sama halnya dengan hukum yang berlaku dalam masalah pemindahan/pendistribusian zakat seseorang ke luar negeri tempat ia bermukim. [Fiqhul islam wa adillatuhu, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel