Iklan Atas Artikel

Cek Fakta Sejarah, Benarkah Vatikan Negara Pertama yang Akui Kemerdekaan RI


Oleh: Refrinal

Beberapa hari ini ramai di media social yang membahas kembali pernyataan Ahok di media nasional bahwa Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Walau artikel tersebut sudah cukup lama (2013) namun sepertinya perlu diluruskan ke tempat yang sebenanarnya, karena bersamaan dengan moment perayaan 74 tahun Kemerdekaan Indonesia.

Kutipan pernyataan ahok dalam sebuah wawancara sebagaimana dikutip liputan6 com: "Hahaha... Mau kerja sama apa? Tidak ada lah. Tadi dikasih kenang-kenangan medali Paus, tapi cetakan lama, belum ada cetakan baru. Dikasih buku sejarah Paus keuskupan dari taon1947. Kan, Vatikan itu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia," selesai kutipan.

Pernyataan Ahok termasuk dalam kategori sesat dan menyesatkan, dan menggambarkan bahwa beliau tidak memahami sejarah dan miskin literacy, padahal sejarah adalah satu-satunya catatan detail yang tak akan pernah berubah dan bahkan dapat mengungkap berbagai fakta sahih yang pada masa lalu atau saat ini keliru, untuk menemukan kebenarannya.

Namun berkenaan dengan negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan RI, maka itu adalah pelajaran sejarah pertama yang sangat mudah ditelusuri tanpa membutuhkan kemampuan literacy yang rumit.

Dalam catatan sejarah dan kemudian catatan itu bisa ditemui di perpustakaan banyak negara dan menjadi dokumen yang otentik, kemudian dapat divalidasi di media-media elektronik, maka negara-negara yang pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia seluruhnya adalah negara-negara Arab, yang tergabung dalam Liga Arab.

Jika diurutkan, maka negara-negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia adalah Mesir, Suriah, Lebanon, Yaman, Arab Saudi, Palestina, Irak dan Afganistan. Sementara Vatikan adalah negara Eropa pertama (bukan dunia) yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Vatikan dalam catatan sejarah memberikan pengakuan atas kemerdekaan RI pada tanggal 6 Juli 1947. Hal ini itandai dengan pembukaan misi diplomatik Vatikan di Jakarta pada tahun 1947 di tingkat Apostolic Delegate --misi diplomatik setara dengan Kedutaan Besar namun tanpa konsulat dan tanpa kewenangan mengeluarkan visa.

Dalam catatan sejarah, Mesir adalah negara pertama yang mengakui Kemerdekaan Indonesia, atas dorongan syaikh Hasan Al-Bana yang kala itu merupakan Pemimpin Ikhwanul Muslimin. Hasan Al-Bana adalah tokoh utama yang mendorong negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengumumkannya secara resmi melalui jaringan radio.

Bahkan disebutkan dalam buku sejarah yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc. Bahwa, Palestina-lah negara pertama yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai buku sejarah yang otentik dan diakui faliditasnya  “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” itu diberi kata sambutan oleh para tokoh bangsa diantaranya Mohammad Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), Muhammad Natsir (Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

Satu hal yang menjadi sorotan adalah besarnya peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, serta keberaniannya menyatakan dukungan di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Sikap dukungan Palestina terhadap kedaulatan RI ini langsung diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- yang dilakukan secara terbuka atas kemerdekaan Indonesia: “….pada 6 September 1944, Radio Berlin  mengumumkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.

Selain itu Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenaan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh untuk kemerdekaan indonesia. Sayangnya, peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Hebatnya lagi dukungan ini telah diberikan setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Setelah itu, negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali adalah Negara Mesir. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Maka sangat disayangkan, tokoh sekaliber Ahok melakukan penyesatan sejarah secara sangat fatal, dan tentu dalam banyak hal sejarah adalah satu-satunya catatan fakta yang tak akan mungkin berubah kecuali memang ada temuan-temuan baru yang harus dikuatkan dengan data dan catatan yang sangat kuat.

Semoga status saya pagi ini dapat mencerahkan, dan meluruskan hal yang keliru, agar generasi muda penerus bangsa ini dapat memperkaya literacy tentang sejarah perjalanan bangsa ini, dari sumber-sumber yang sahih dan kredibel.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel