Iklan Atas Artikel

2 Tema Khutbah Jum'at Pilihan Tentang Kemerdekaan Republik Indonesia

Berikut ini 2 teks khutbah jumat pilihan dengan tema Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

* * *

Tema pertama: "HARI PERJUANGAN DAN HARI PENGORBANAN"

Tanggal 17 Agustus Hari Kemerdekaan RI

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله..

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah bersama-sama kita saling berwasiat untuk meningkatkan taqwa kita semua. Sudah tak terhitung ni’mat dan rahmat yang diberikan oleh Allah swt kepada kita. Hingga kita masih bisa berkumpul bersama melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan mengagungkan nama-Nya, Alhamdulillah.

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Pada bulan ini kehidupan kita sebagai umat muslim Indonesia sungguh berada dalam hari-hari bersejarah. Setelah bersama-sama kita melalui hari raya qurban, kita berjumpa dengan hari pahlawan. Keduanya adalah adalah momen yang sarat dengan nilai kesejarahan. Ketahuilah bahwa kedua momentum itu menuntun adanya pengorbanan. Karena pengorbanan merupakan syarat wajib sebuah keberhasilan. Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah

Kesuksesan Nabi Ibrahim as. sebagai hamba yang paling dicintai Allah –khalilullah- telah terbukti dengan ketaatan beliau melaksanakan segala perintah-Nya. Bahkan demi menemukan petunjuk ke-tuhanan dan ke-tauhidan, Nabi Ibrahim as harus melawan arus. Melawan penguasa dan kehendak orang tua. Dalam ruang pemujaan, nabi Ibrahim beraksi, beliau hancurkan semua berhala, kemudian ia kalungkan kapak dipundak berhala yang tersisa. Maka merekapun bertanya siapa yang melakukan pengrusakan ini? siapa yang berani menghancurkan tuhan-tuhan kami? Ibrahimpun berargumen “bahwa pelaku itu meninggalkan bukti, lihat saja kapak alat pengrusak itu masih ada dipundak, berarti ialah yang melakukannya”. Dengan berkata demikian, Nabi Ibrahim as dianggap menghina. “Bukankah itu berhala yang tak kuasa berbuat apa-apa? bagaimana kamu bisa menuduhnya menghancurkan segalanya?” Nabi Ibrahim pun menjawabnya “jika memang ia tak punya kuasa mengapa engkau mengbdian diri dan menyembah pada-nya?” Singkat cerita, disiapkanlah untuk Nabi Ibrahim kayu bakar dan tungku perapian, sebagai ganjaran dari sebuah pembangkangan. Tapi Allah yang Maha Kuasa berkehendak lain, energi panas yang terkandung dalam api diganti dengan dingin yang menyelimuti. Sehingga Ibrahim bisa menyelamatkan diri. Allah swt bersabda:

"Wahai Api, jadilah engkau dingin yang menyelamatkan Ibrahim"

Ini adalah pengorbanan pertama kali yang dilakukan Nabi Ibrahim. Ia harus rela kehilangan orang tua yang selama ini menyayanginya. Ia juga kehilangan komunitas masyarakatnya. Kemana kira-kira Ibrahim ketika itu pergi setelah pembakaran terhadap dirinya gagal? Itulah pengorbanan.

Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia

Andai manusia tahu, bahwa pengorbanan itu sebuah ujian dari Allah Yang Maha Kuasa yang harus dijalani dan dilewati semua hambanya. Begitu beratnya pengorbanan Nabi Ibrahim as yang dilakukannya demi kebahagiaan anak cucu dan umat manusia setelahnya. Ia harus rela mengorbankan Ismail sang anak kesayangan, untuk disembelih oleh tangannya sendiri. Ini adalah cobaan terbesar sepanjang sejarah manusia. Dan Nabi Ibrahimpun menta’atinya. Karena ini adalah perintah dari Yang Maha Kuasa. Begitu tulusnya hati Nabi Ibrahim merelakan Ismail sehingga Allah swt menyiapkan seekor kambing sebagai gantinya. Kepasrahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim itu dilakukannya sebagai cara mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Mendekat dalam bahasa arab adalah qaruba karena itu usaha mendekatkan diri disebut dengan qurban. Sungguh hidup adalah pengorbanan. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula anugrahnya. Semakin tulus berkorban semakin besar nilainya.

Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah

Pengorbanan Nabi Ibrahim as itulah yang menjadi teladan para pejuang. Mereka tidak punya motif dan kepentingan. Dengan tulus ikhlas berjuang mengusir penjajahan lillahi ta’ala. Niatnya adalah menegakkan hak-hak adami yang harus dipenuhi, demi terselenggaranya hak-hak Allah dalam menjalankan ibadah. Kemerdekaan yang telah diplokamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan. Apapun yang terjadi. Oleh karenanya ketika, sekutu dan bala tentaranya berniat menguasai kembali Indonesia, maka pada saat itu pula tanggal 22 Oktober 1945 Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari beserta segenap ulama lainnya mewajibkan jihad melawan sekutu. Inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan resolusi Jihad.

Selang beberapa minggu, ternyata sekutu dan Belanda benar-benar tidak merelakan Indonesia merdeka. Karena itu pada tanggal 10 Nopember 1945, ia menggempur Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Dengan adanya maklumat yang telah tersebar sebelumnya tentang wajibnya membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan, maka segenap bangsa Indoneisa, santri dan kyia tukang becak dan para kuli dari berbagai pelosok daerah bergabung datang berhamburan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Dengan berkoordinasi dengan para kyai, Bung Tomo dan segenap elemen bangsa bahu membahu mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan bangsa. Meskipun senjata yang digunakan oleh bangsa Indonesia, tidaklah secanggih senjata tentara Belanda. Hanya saja semangat juang yang tinggi, dan motifasi yang luhur disertai tulusnya niat dan ikhlas, merubah senjata sederhana itu menjadi sangat luar biasa. Bambu Runcing, Menjalin, Keris, Golok, Pedang, Celurit, Kelewang, dan apapun jenisnya menjadi sangat berbahaya bila disertai keikhlasan.

Spirit melawan penindasan inilah yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an kepada umat manusia. Dalam al-Baqarah ayat 190 diterangkan

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"

Pejuangan ini bukanlah tanpa pengorbanan. Banyak sahabat, saudara, anak, kakak, adik, pak-dhe, paman, bapak dan kakek yang kehilangan nyawa, gugur sebagai bunga bangsa. mengorbankan diri demi kemerdekaan negeri. Pengorbanan menjadi syarat wajib sebuah keberhasilan. Semoga saja tulus-ikhlasnya niat mereka mendapatkan keistimewaan dari Yang Maha Kuasa. Seperti janji Allah kepada mara Mujahidin. Dan semoga kita yang ditinggalkan dan menikmati kemerdekaan ini tidak mengecewakan pengorbanan mereka. amien

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

* * *

Tema kedua: "KHUTBAH KEMERDEKAAN RI"

Tanggal 17 Agustus Hari Kemerdekaan RI

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Kaum Muslimin Yang Terhormat

Dari sekian banyak nikmat dari Allah, swt yang tak terhitung jumlahnya, salah satu nikmat dan rahmat dari Allah,swt yang diberikan kepada manusia adalah kemerdekaan. Hal ini merupakan nikmat yang tidak bisa diukur dengan harta benda. Banyak orang bersedia mengorbankan apapun demi mendapatkan hak untuk merdeka.

Merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri bahwa peran dan sumbangan para Ulama, peran dan sumbangan para pahlawan serta umat Islam begitu besar dan menentukan dalam perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajah dan meraih kemerdekaan. Betapa kontribusi mereka yang sangat bernilai dimata bangsa ini harus senantiasa dijadikan suatu semangat untuk mengukir prestasi , Saatnya kita menjadikan momentum kemerdekaan ini untuk meneladani perjuangan para ulama’ dan pahlawan negeri ini, meneruskan perjuangan mereka dan membawa kemerdekaan ini menuju kemerdekaan yang totalitas dalam segala arti dan bentuknya.

Berkaitan dengan nikmat kemerdekaan, ada 3 cara untuk mensyukurinya:

1. Dengan hati. Kita mesti yakini bahwa kemerdekaan didapat berkat rahmat dan pertolongan ALLOH SWT.

2. Dengan lisan. Syukur jenis ini dengan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah). Syukur ini tidak saja dilakukan pada saat mendapat nikmat kemerdekaan, tapi setiap kali mendapat nikmat dan berkah dalam kehidupan sehari-hari.

3.Dengan anggota badan. Di sini, kita mesti memanfaatkan kemerdekaan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah.swt, Mengisi kemerdekaan dengan melakukan amalan-amalan sholeh yang mendatangkan rahmat Allah swt.

Hadirin sidang jama’ah jumat rahimakumullah.

Kalau kita kembali kepada sejarah Islam ,Tidak kurang dari 580 tahun terjadi penjajahan akidah. Bukan hanya akidah yang dijajah, tempatnya pun dijajah. Ka'bah yang digunakan untuk ibadah haji (mentauhidkan Allah) digunakan dan diambil alih oleh orang-orang Arab jahili dengan model ibadah haji yang penuh dengan kemusyrikan. Ka’bah dipenuhi dengan patung-patung- berhala.

Untuk membebaskan Masjidil Haram dari berhala semacam hubbal, latta, uzza dan manat, Allah mengutus Nabi Muhammad. Firman-Nya:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (ال عمران :164)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Diutusnya Rasulullah Saw., dalam usia 40 tahun untuk membebaskan Masjidil Haram tidaklah mudah. Selama 13 tahun Rasulullah berada di kota Makkah menyaksikan patung-patung kemusyrikan memenuhi Ka’bah. Rasul pun hijrah ke madinah menyusun kekuatan. Tahun ke-1, ke-2, ke-4 sampai ke-7 H, Rasul belum mampu menunduk-kan orang musyrik yang menjajah Masjidil Haram, sampai Alquran menggambarkan Rasul beserta orang mu'min hampir merasa putus asa karena mereka tidak juga beriman. Tidak ada jalan lain kecuali menanti pertolongan Allah bagaimana cara memerdekakan Masjidil Haram.

Al-quran menggambarkan, Rasul dan orang-orang beriman digoncangkan jiwanya sehingga berkata, “Kapan pertolongan Allah itu datang?”. Rasul sangat menanti beserta orang-orang beriman kapan Masjidil Haram dapat merdeka.

Pada tahun ke-8 H turunlah perintah Allah untuk merebut Masjidil Haram dan ka'bah. Berangkatlah Rasulullah beserta 10.000 tentara dengan strategi perang obor. Setiap tentara membawa obor sebanyak-banyaknya. Lewat tengah malam Makkah dikepung dari segala arah dengan obor dinyalakan. Melihat obor yang begitu banyak, Abu Sufyan ketua orang musyrik waktu itu merasa tak mungkin dapat melawan Islam.

Pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-8 H dengan tanpa perlawanan, tentara Rasul menaklukkan Makkah, merdekalah Masjidil Haram dari tangan orang musyrik. Kendati demikian akidah belumlah merdeka karena orang-orang musyrik masih bebas menyembah berhala di dalamnya.

Tahun ke-9 H merupakan akhir dari peribadahan orang musyrik di Masjidil Haram. Atas perintah Nabi, Ali bin Abi Thalib membacakan pengumuman tentang kemerdekaan akidah, “Mulai tahun ini orang musyrik sudah tidak boleh lagi melaksanakan jenis peribadahan di Masjidil Haram.” Merdekalah akidah pada tahun ke-9 H. Lalu masuk Islamlah orang-orang dengan berduyun-duyun. Dengan demikian perjalanan akidah Islam tidaklah mulus tapi penuh dengan rintangan.

Pada tahun ke-10 H (tahun wafatnya Rasulllah) beliau menerima wahyu, yang berisikan apa yang mesti dilakukan setelah merdeka.

إذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ , وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا , فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا )النصر 1-3)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (Qs. An-Nashr [110]:3)

Ketika kemerdekaan telah diraih, Allah memerintahkan untuk bertasbih, memuji Allah, beristighfar, dan bertaubat sebab tidak menutup kemungkinan selama memperjuangkan kemerdekaan banyak menyakiti orang, banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Selesailah tugas Rasulullah, maka Abu Bakar pun mengerti dan menangis karena dengan selesainya tugas berarti Rasul akan segera kembali kehadirat Allah.

Pelajaran yang dapat kita petik dari sejarah Nabi dalam pembebasan Masjidil Haram tersebut adalah mensyukuri kemerdekaan itu hendaknya dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan berinstropeksi terhadap segala kesalahan dan dosa lalu bertaubat jangan mengulangi kesalahan terlebih menambah kekacauan.

Jika mengsyukuri kemerdekaan dengan hura-hura dan dengan kemaksiatan serta dosa, bisa jadi seperti yang pernah dialami kaum mudhor yang digambarkan Allah dalam Alquran:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (النحل : 112)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. An-Nahl [16]:112)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang benar di dalam mengsyukuri segala ni'mat yang Allah berikan kepada kita.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Khutbah Ke 2

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel