Iklan Atas Artikel

Langkah-Langkah Penanganan Disleksia Menurut Para Ahli


Nyongmart.com- Assalamualaikum. Apa kabar bunda semua? semoga hari ini menyenangkan. Masih melanjutkan topik yang cukup penting untuk kita pelajari yaitu parenting. Tentu saja masalah dalam pendidikan kian hari kian komplek terlebih jika memiliki anak-anak yang istimewa. Maka tidak ada istilah tamat belajar, namun terus belajar dan belajar.

Melanjutkan tema pembahasan Disleksia pada artikel sebelumnya. Bagi ayah bunda yang belum baca bisa disimak pada link ini : Faktor Penyebab dan Ciri-ciri Disleksia.

Tulisan ini akan mengupas tuntas cara penanganan Disleksia yang disajikan dengan sistematis sehingga diharapkan mudah dipahami dan dipraktekan. Apa saja tahapan penanganan disleksia menurut para ahli? Berikut empat tahap Penanganan Disleksia.

1. Pengembangan Bahasa dan Bicara

- Demonstrasikan apa yang ingin dikerjakan anak.

- Menceritakan kepada anak hal yang sedang dilakukannya.

- Medorong anak bercakap-cakap.

- Memperlihatkan kepada anak gambar yang menarik, sehingga anak mampu mendeskripsikan dan menginterpretasikannya.

- Membaca dan menceritakan cerita pendek kepada anak.

- Meminta atau memberi dukungan kepada anak untuk bercerita di depan kelas tentang situasi yang menarik yang dialami di rumah atau di tempat lain.

- Membuat permainan telepon-teleponan.

2. Pengembangan Fungsi Visual 

a. Diskriminasi Visual

- Menandai bentuk yang berbeda. Misalnya, pilihlah gambar seri binatang dan sajikan kepada anak lima gambar kucing dan satu gambar harimau, lalu mintalah anak melingkari gambar binatang yang berbeda.

- Mendeteksi persamaan dan perbedaan benda. Misalnya, anak diminta menjelaskan perbedaan meja dan kursi.

- Mengelompokkan benda/objek. Misalnya, anak di-minta mengelompokkan daun yang sejenis atau mengelompokkan binatang.

- Menjodohkan huruf dan kata.

- Menjiplak.

- Menelusuri pola tertentu.

b. Resepsi Visual

- Ajari anak mengenali dan membedakan berbagai bentuk dan objek datar sederhana dalam ukuran, warna, dan posisi yang berbeda. Kemudian teruskan mengenali bentuk tiga dimensi atau bentuk lain. Misalnya, segitiga, lingkaran, segiempat, tanda panah, huruf, dan kata.

- Sediakan berbagai pengalaman kepada anak melalui kegiatan berbelanja, bepergian, atau bertamasya ke tempat rekreasi, hiburan, dan bersejarah.

- Bantulah anak mengamati dan membicarakan hal-hal yang dilihat, bisa dilakukan permainan.

- Ajari anak memahami simboI-simbol dan gambar-gambar.

c. Asosiasi Visual

- Bantulah anak belajar mengidentifikasi konsep-konsep yang berlawanan dalam bentuk visual yang dimulai dengan ciri nyata (besar-kecil) dan berangsur-angsur menuju ide yang lebih abstrak yang harus diverbalisasikan oleh anak. Misalnya, bahagia-sedih.

- Gunakan analogi gambar. Misalnya, perlihatkan gambar anjing dan sepotong tulang, lalu mintalah anak untuk menemukan kesamaannya gambar dengan kucing atau tikus.

- Bantulah anak melakukan pengklasifikasian konsep ke dalam suatu kumpulan melalui penemuan suatu gambar atau objek mengenai kategori khusus yang cocok, misalnya binatang berkaki empat seperti anjing, kucing, kambing, sapi, dan kerbau.

- Visual Closure Bermain puzzle. Sajikan rangsangan visual (huruf, gambar, Kata, dan warna) untuk beberapa detik atau menit lalu mintalah anak memilih jenis yang sama di antara beberapa pilihan.

- Sajikan pengalaman tidak lengkap dan mintalah anak mengintegrasikan semua bagian yang ditayangkan. Misalnya, latihan mengingat wajah.

d. Memori Visual

- Perlihatkan gambar kepada anak, lalu pindahkan, tutup, atau putar. Mintalah anak menyebutkan satu persatu jenis-jenis atau detiI-detil dalam gambar.

- Perlihatkan suatu gambar kepada anak, bisa desain geometri atau contoh gambar lainnya. Pindah, tutup, atau putar gambar tersebut dan mintalah anak menggambar dari memori yang dilihatnya. Jika anak tidak dapat menggambar sesuai detil yang ada, ulangi sampai anak melakukannya secara baik. Dalam hal ini, kompleksitas dan pola gambar berangsur-angsur ditingkatkan.

- Ajari anak teknik mengungkapkan kembali pengalaman visual secepat mungkin dengan menggunakan verbalisasi, pengelompokan, pembalikan, atau tanggapan motorik.

- Kembangkan visual memori anak dengan cara melihat berbagai benda, objek, atau gambar yang terkondisikan sedemikian rupa. Misalnya, meminta anak memberikan objek yang dilihat secara visual atau berupa gambar dan memberikan warna pakaian yang dilihat.

3. Pengembangan Fungsi Auditif

a. Diskriminasi auditori

- Berikan kepada anak suatu seri kata yang mulai dengan bunyi huruf awal yang sama.

- Berikan kepada anak suatu seri kata bersajak, yang tergabung dengan kata lain tidak bersajak. Misalnya bas, ras, mas, bis, tor, atau tip.

- Ketuk atau pukullah suatu objek, sedangkan anak dalam kondisi memalingkan muka ke sisi lain. Kemudian mintalah anak menebak objek yang diketuk atau dipukul tersebut.

- Tutup mata anak dan mintalah dia menceritakan arah asal bunyi yang didengar.

b. Resepsi Auditori

Jika anak kesulitan menganalisis makna kata, sajikan peng-alaman motorik secara simultan dengan rangsangan auditori, tetapi tetap menekankan makna auditori.

c. Auditori Closure

Bantulah anak mengembangkan kebiasaan berlatih mendengarkan sesuatu pembicaraan dan mengatakan kembali sebelum dikatakan secara keras atau secara sempurna.

d. Memori Auditori

Ketuk bangku atau objek lain dan mintalah anak menerka banyaknya ketukan yang dilakukan, serta mintalah anak mengulangi pola ketukan tersebut.

4. Pendekatan Pengajaran Membaca bagi Anak Disleksia (Pendekatan Visual-Auditif-Kinestetik-Taktil)

- Berikan kartu huruf dan mengucapkannya, anak menirukan apa yang diucapkan.

- Setelah nama huruf dikuasai anak, ucapkan bunyi huruf dan anak mengikutinya. Selanjutnya tanyakan kepada anak, "Apa nama bunyi huruf ini ?" Anak lalu menyebutkan bunyinya.

- Ucapkan bunyi huruf, sedangkan bagian kartu yang bertuliskan huruf tidak diperlihatkan kepada anak (menghadap ke Anda). Kemudian perlihatkan kartu tersebut dan tanyakan kepada anak tentang nama huruf tersebut, lalu anak menjawabnya.

- Tuliskan huruf yang dipelajari, terangkan, dan jelaskan. Anak memahami bunyi, bentuk, dan cara membuat huruf dengan cara menelusuri huruf yang dibuat, lalu menyalin huruf tersebut berdasarkan memorinya. Akhirnya anak menulis sekali lagi dengan mata tertutup atau tidak mencontoh. Setelah dikuasai betul oleh anak, lanjutkan dengan huruf lain. Jika anak sudah menguasai beberapa huruf, lanjutkan dengan merangkai kata dengan pola KVK (Konsonan Vokal Konsonan)

Perlu diingat, sebaik-baik penanganan tentunya harus dilakukan oleh ahlinya, karena pada dasarnya ada berbagai variasi tipe disleksia sehingga tidak ada satu pola baku yang cocok untuk semua tipe disleksia. Misalnya, ada anak diseleksia yang mengalami hambatan dengan ingatan pendek, tetapi justru sangat baik dalam ingatan jangka panjangnya. Untuk itu peran psikolog sangat diperlukan untuk menemukan penanganan yang paling tepat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel