Biografi Gus Baha Ahli Tafsir yang Bersahaja dari Tanah Jawa


Namanya mungkin belum sepopuler ustadz-ustadz kondang nusantara. Bahkan bisa jadi anda juga baru tahu dari tulisan ini. Maka sangat beruntung karena anda sedang membaca biografi seseorang yang istimewa. Bahkan sangat istimewa. Kenapa? karena beliau seorang mufassir yang secara keilmuan bisa dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain seorang pakar tafsir Qur'an dengan keahlian yang mendalam plus dengan segala jenis ilmu turunannya. Sangat jarang ustadz dengan kapasitas ilmu tafsir yang rumit dan detail.

Profil

Nama lengkapnya KH. Ahmad Bahauddin Nursalim namun lebih akrab dipanggil dengan sebutan "Gus Baha'". Beliau adalah putra KH. Nursalim Al-Hafizh seorang ulama' ahli Qur'an dari desa Narukan, kecamatan Kragan, kab. Rembang, Jawa Tengah. KH. Nursalim sendiri adalah murid dari KH. Arwani Al-Hafizh Kudus dan KH. Abdullah Salam Al-Hafizh Pati. Adapun ibu beliau memiliki silsilah keluarga besar ulama' Lasem, dari Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu. Dilihat dari silsilah keluarganya beliau merupakan keturunan ulama'-ulama' ahli Qur'an yang hebat

Pendidikan

Semenjak kecil Gus Baha' sudah mendapatkan pendidikan yang serius dalam bidang keilmuan dan hafalan Al-Qur'an di bawah asuhan ayahnya sendiri.

Karena pola pendidikan yang ketat inilah gus Baha kecil sudah berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an beserta Qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Hal ini sudah maklum dikalangan santri akan karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani. Selanjutnya Gus Baha nyantri dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair -hafidzohulloh- di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang. Di pesantren inilah gus Baha' mulai terlihat potensinya dalam 'ulum syar'i seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Prestasi dan potensinya semakin nampak saat mondok di Al-Anwar. Dalam waktu yang tidak begitu lama beliauampu mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rawi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Satu hal unik yang pernah dialami beliau selama nyantri tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

Beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair. Hal ini tidak berlebihan mengingat kedekatan beliau kepada Syaikh Maimoen Zubair hafidzohulloh dalam berbagai aktifitas.

Sebagai santri yang memiliki segudang prestasi Gus Baha' kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan nasehat di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina yang riwayatnya sampai ke penulis.

Menikah

Tidak lama sepulang dari pondok Al-Anwar Sarang, beliau menikah dengan seorang wanita pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi kelokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan rela iuran untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau. Sedikitnya ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya. Namun taqdir berkata lain beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha' menggantikan posisinya mengasuh di LP3IA Narukan.

Selain membina pesantren Gus Baha' juga aktif di UII sebagai Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Dalam jagat Tafsir Al-Qur'an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Namun keilmuanya diakui seluruh kalangan mufasir. Posisi beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur'an. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an.

Selain berposisi sebagai Mufassir di Dewan Tafsir Nasional seperti anggota lajnah yang lain, beliau juga bertanggung jawab sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Artikel terkait: Biografi Kyiai Haji Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik dan Tokoh Bangsa yang Berjasa

Penutup

Satu kata untuk kedalaman ilmu qur'an yang beliau miliki "Anugerah". Iya beliau adalah anugerah terbaik untuk kaum muslimin Nusantara. Sudah semestinya kita bersyukur dan bangga dengan lahirnya orang hebat seperti beliau. Semoga Alloh senantiasa menjaga beliau.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel